The film centers on Jake Tilton, who acquires a mystical "monkey's paw"
talisman that grants its possessor three wishes. Jake finds his world
turned upside down after his first two wishes result in co-worker Tony
Cobb being resurrected from the dead. As Cobb pressures Jake into using
the final wish to reunite Cobb with his son, his intimidation quickly
escalates into relentless murder-- forcing Jake to outwit his psychotic
friend and save his remaining loved ones.
Setelah apa yang sudah dilakukannya di dua film sebelumnya, sulit dipercaya jika James Wan masih mampu menakut-nakuti penontonnya untuk ketiga kalinya secara beruntun. Tentu saja setelah Insidious dan The Conjuring pastinya tidak mudah buat Wan untuk melakukannya lagi, apalagi mengingat yang terkahir, The Conjuring telah menetapkan batasan lebih tinggi lagi dari yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Pertanyaanya tentu saja, apakah horor selanjutnya bisa lebih bagus? Atau setidaknya dapat menyamai keduanya? Tetapi rasa pesimis tentang sebuah sekuel yang sebenarnya tidak perlu ada itu hilang seketika di saat lagi-lagi Insidious: Chapter 2 datang bersama kengerian yang sama kuatnya dengan pendahulunya.
Dan kali ini tidak hanya membawa aroma yang sama pekatnya dengan seri pertamanya, Wan juga akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menganggumu sejak dua tahun lalu bersama lebih banyak misteri yang terungkap dan kejutan-kejutan baru yang tidak kamu dapatkan sebelumnya lengkap dengan deretan cast seri pertamanya, termasuk Ty Simpkins dan beberapa karakter baru yang penting.
Buat yang belum nonton Insidious lebih baik stop di sini dulu dan pergi sana untuk melihat seri pertamanya sebelum kamu nekat membaca sinopsis ini lebih lanjut, karena apa yang ditulis nanti bukan hanya akan menjadi spoiler buat Insidious namun kamu harus menonton seri pertamanya agar tidak tersesat di Chapter 2 ini.
Kita tahu persis apa yang terjadi di ending Insidious: Josh Lambert (Patrick Wilson) berhasil meyelamatkan putranya, Dalton (Ty Simpkins) dari setan “Darth Maul”. Dan Apa yang terjadi kemudian adalah hantu nenek grandong yang selama ini menunggunya berhasil ikut pulang, menghinggapi raga Josh lalu membunuh Elise (Lin Shaye) sang cenayang. Dan film pertamanya berakhir setelah Renai (Rose Byrne) melihat gambar mengerikan di kamera Elise.
Nah, Chapter 2 memulai kisahnya sesaat setelah peristiwa seri pertamanya berakhir. Untuk sementara Josh, Renai dan ketiga putranya tinggal di rumah ibu Josh, Lorraine (Barbara Hershey) sembari menenangkan diri. Tetapi tentu saja setelah apa yang sudah dilihatnya, Renai tidak pernah merasa bahwa mimpi buruk itu berkahir begitu saja, terlebih ia menemukan kembali kejadian-kejadian gaib di rumah ibu mertuanya itu plus sosok Josh yang berubah, tidak hanya Renai bahkan Lorraine pun turut merasakan keganjilan itu dan memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi pada diri putra satu-satunya itu sebelum semuanya terlambat.
Seperti yang sering kamu dapatkan di dua horor Wan sebelumnya, masih akan ada rumah yang diganggu, koridor-koridor gelap, pintu berderit, benda bergerak sendiri, sekelebat penampakan hantu sampai momen jump scare tak terduga yang menguji kekuatan jantungmu bersama scoring menyayat dari komposer langganan Wan, Joseph Bishara. T
etapi Chapter 2 tidak hanya mencoba mengulangi formula creepy yang sama dengan seri pertamanya atau mungkin juga The Conjuring yang banyak memberikan inspirasi Wan untuk sekuel Insidious ini tanpa perkembangan. Ada sesuatu yang lebih dalam yang hendak dihadirkan Wan untuk melebihi seri pertamanya dengan mengisi naskah garapan Leigh Whannell dengan kedalaman yang lebih jauh lagi dari sekedar horor rumah angker dengan membawa settinya keluar dari kediaman ke. Seperti kata Wan, Chapter 2 sedikit bergeser dari sekedar horor haunted house semata.
Ini seperti thriller domestik dengan unsur supranatural kuat di dalamnya bersama sedikit sentuhan klasik The Shining, misteri lama yang terungkap dengan kemunculan paranormal baru yang menggunakan dadu ketika berbicara dengan orang mati. Di dalamnya juga ada masa lalu Josh yang tergambar rangkaian flashbcak 1986 ketika Lorraine muda bersama Elise muda berusaha untuk ‘menyembuhkan’ Josh, meskipun kita sama-sama mengetahui itu tidak sepenuhnya berhasil di masa depan nanti.
Tetapi bagaimanapun masa lalu sangat berperan penting pada Chapter 2 ini untuk mengungkap beberapa fakta mengerikan tentang diri Josh dan siapa sebenarnya hantu nenek bergaun hitam yang menerornya selama ini. Ada juga elemen time travel yang dimasukan Wan yang dan harus diakui bagaimana dengan cerdas Wan memanfaatkan perjalan waktunya untuk menempel dengan sekuen-sekuen seri pertamanya, menjadikan kedua seri ini seperti satu paket horor yang tidak terlepaskan satu sama lain.
Mungkin tidak lebih baik, tetapi ini masih sama menakutkannya dengan seri pertamanya lengkap dengan segala teror-teror klasik khas Wan. Dan seperti layaknya sebuah sekuel, Insidious: Chapter 2 mencoba untuk tampil lebih besar ketimbang seri pertamanya dengan menghadirkan lebih banyak misteri dan teror baru yang dibangun dengan semangat lama. Ending-nya menjelaskan bahwa akan ada seri berikutnya di masa depan, namun mengingat pernyataan Wan yang emoh menggarap horor lagi, kita hanya bisa berharap franchise ini masih tetap kuat tanpa campur tangan seorang James Wan.
Semula Josh Lambert (Patrick Wilson) dan Renai (Rose Byrne) mengira rumah mereka telah dihantui. Ada banyak kejadian aneh di sana. Kejadian yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Celakanya, ternyata bukan rumah mereka yang berhantu. Ada makhluk dari alam lain yang ternyata sedang berusaha masuk ke tubuh putra mereka berdua. Dalton (Ty Simpkins), putra Josh dan Renai terjatuh dan mengalami koma.
Renai yang pertama sadar kalau ada yang tak beres namun Josh sepertinya tak percaya. Setelah mengalami sendiri barulah Josh setuju untuk pindah. Ternyata pindah ini juga bukan solusi. Sepertinya hantu itu mengikuti ke mana mereka pergi. Ternyata, bukan rumah tempat tinggal mereka yang berhantu.
Makhluk dari kegelapan ini berusaha masuk ke tubuh Dalton yang kini sedang koma. Satu- satunya yang bisa mengembalikan roh Dalton ke dalam tubuhnya hanyalah Josh yang ternyata juga memiliki kemampuan melepaskan diri dari tubuhnya dan masuk ke alam lain. Masalahnya bisakah Josh kembali setelah ia menyelamatkan Dalton?
Jika kamu sudah menonton versi aslinya; Somos lo que hay 2011 lalu, bisa dipastikan tahu benar rahasia mengerikan apa yang disembunyikan di balik pintu rumah keluarga Parker di remake horor cult Meksiko ini. Dibuka dengan guyuran hujan deras yang hampir menengelamkan kota kecil di Pegunungan Catskill, versi daur ulang We Are What We Are seperti sudah menetapkan atmosfer sendunya jauh sejak awal besama balutan sinematografinya yang cantik, sunyi, melankolis dan pucat, sepucat kulit anggota keluarga kecil Parker yang misterius.
Setelah kematian mendadak sang ibu, seperti ada kegelisahan di antara anggota keluarga Parker, khususnya dari anak-anak mereka. Kegelisahan menunggu waktu makan yang biasanya dipersiapkan oleh ibu mereka. Kini, pasca kepergian ibu, ritual memasak dan makan malam keluarga yang sudah berusia ratusan tahun itu berada di tangan putri tertua Parker, Iris (Ambyr Childers).
Sementara sang ayah, Frank (Bill Sage) yang mulai sakit-sakitan bertugas untuk meyakinkan putri dan putranya bahwa tradisi mengerikan keluarga mereka memang sudah digariskan oleh Tuhan. Lalu ada kecemasan lain yang melanda warga Catskill, ketika sekitar 30an penduduknya menghilang tanpa bekas dalam kurun waktu 12 tahun ini, termasuk putri seorang dokter forensik.
Set-nya dipindahkan dari kumuhnya Meksiko ke kota kecil di pegunungan Catskill yang basah dan sepi, sutradara Mulberry Street (2006) dan Stake Land (2010), Jim Mickle melakukan banyak perubahan dan penyesuaian sana sini untuk remake Sundance-nya ini, menambah unsur gothic, menyajikannya dengan lebih presentasinya lebih menarik dan pastinya lebih cantik ketimbang versi aslinya yang kurang greget itu, menghilangkan tema-tema provokatifnya, dari homoseksual sampai incest dan mengganti gender anggota keluarganya yang kini lebih didominasi oleh lebih banyak anak-anak perempuan dengan konflik internal yang lebih sederhana serta melibatkan investigasi dari dokter yang curiga, hasilnya, bagus!
Ini adalah contoh remake horor yang berhasil menghadirkan semua kekuatan versi orisinilnya dalam balutan teknis dan naskah yang lebih menyegarkan. Tanpa harus jauh-jauh melenceng, We Are What We Are versi Mickle masih mampu menghadirkan sebuah kengerian sebuah horor indie dengan sedikit nada arthouse di pembuluh darahnya.
Alurnya bergerak perlahan, namun bersama kombinasi kekuatan visualnya yang kelam dan penampilan apik para aktris perempuanya ia tidak pernah gagal merebut perhatianmu di sepanjang 105 menit durasinya. Mickle tahu benar bahwa ini bukan hanya sekedar sajian horor semata, drama dan kengeriannya harus bisa berjalan seimbang sama kuat.
Jadi selain melihat sebuah kisah tentang keluarga yang berjuang bertahan hidup dengan pilihan-pilihan sulit dari agama yang mereka percayai, sebuah cerita pencarian identitas dari dua gadis remaja yang galau akan posisi mereka di dalam keluarganya, We Are What We Are juga menawarkan momen blood & gore-nya yang meskipun tidak banyak tetapi muncul pada saat-saat yang tepat sehingga secara tidak langsung mampu menghadirkan efek kejut dan brutal tersendiri, lihat saja endingnya yang mengerikan itu, adegan the last supper itu seperti sebuah klimaks dari segala ketenangan dan kegelisahan di sepanjang filmnya.
Mungkin untuk para penikmat film horror jepang sudah banyak yang tahu kalau banyak sekali film film horor jepang yang menakutkan bahkan hingga menembus ke holywood seperti One Missed Call (Chakusin Ari) , Ringu (The Ring), Dark Water (Honogurai Mizu No Soko Kara) . Nah di tahun 2013 ini, Sutradara Hideo Nakata kembali menyutradarai salah satu film horror yang konon dikabarkan akan lebih seram dari film Ringu dan akan lebih menyayat hati dari film Dark Water.
The Complex atau nama jepangnya kuroyuri danchi merupakan salah satu fim horor yang di sutradarai oleh Hideo Nakata dan bekerja sama dengan penulis populer di jepang Kato Junya dan Miyake Ryuta. Bintang dari film ini ialah mantan personil dari AKB48 yaitu Maeda Atsuko, dan Narimiya Hiroki.
Film ini menceritakan tentang Asuka (Atsuko Maeda) yang baru saja pindah ke komplek apartment Kuroyuri, tanpa mengetahui ada kematian misterius yang telah terjadi 13 tahun silam. Dimulai dari kejadian dia selalu mendengar suara aneh "garigarigari" yang berasal dari sebelah apartmentnya.
Hingga akhirnya orang tua yang tinggal di sebelah apartmentnya ditemukan tewas. Orang-orang baru menyadari kematiannya setelah jam alarm berdering terus. Semenjak kejadian itu, banyak kejadian mengerikan lagi terjadi seperti ada sosok-sosok aneh yang muncul disetiap sudut apartemen itu yang selalu terus membayangi.
Di sana, ia bertemu dengan Hiroki yang memerankan tokoh Sasahara. Hiroki memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang yang sudah mati. Dan merekapun mencoba mencari apa yang sebenarnya terjadi.
Bollywood memicu kontroversi melalui film thriller mata-mata terbaru mereka, "Madras Cafe", yang penggambarannya tentang pemberontak dalam perang saudara Sri Lanka telah menyuarakan keprihatinan di kalangan populasi Tamil India yang cukup besar.
Film yang mulai tayang di India bulan lalu itu, menampilkan John Abraham sebagai agen rahasia India tak lama setelah pasukan penjaga perdamaian yang dikirim oleh New Delhi ke Sri Lanka terpaksa ditarik pada tahun 1990 setelah pertempuran tiga tahun dengan pemberontak Macan Tamil.
Sutradara Shoojit Sircar menggambarkan "Madras Cafe", yang pengambilan gambarnya dilakukan di negara bagian barat daya India Kerala, sebagai film politis bergenre keras yang menampilkan konspirasi dan spionase. India memiliki populasi Tamil besar dan aktif secara politik di bagian selatan. Para aktivis India Selatan telah menyuarakan keprihatinan mereka atas penggambaran film itu tentang pemberontak dalam konflik berdarah tersebut.
Meskipun demikian Sircar bersikeras bahwa film yang berlatarbelakang pada awal tahun 1990, tidak berpihak. "Pesan besar adalah bahwa dalam perang saudara, warga sipil yang paling menderita," katanya. Sekalipun karakter utama dalam film ini adalah fiktif, Sircar mengatakan ia telah "menggunakan referensi nyata, menggambarkan kelompok pemberontak, pejuang kemerdekaan revolusioner, Pasukan Penjaga Perdamaian India (dan) menunjukkan bagaimana keterlibatan India dan kekacauan yang terjadi".
Jong-Woo (Shin Ha Kyun-) telah masuk penjara empat kali untuk kejahatan
kecil suka perampokan dan pencurian mobil, tapi dia sekarang bekerja
sebagai seorang montir mobil. Dia memiliki seorang anak 17-tahun bernama
Gi-Hyuk (Lee Min-Ho), yang dia besarkan sendiri. Gi-Hyuk adalah anak
yang cerdas, tapi bermasalah. Ayah dan anak ini juga tidak akur.
Meskipun, Jong-Woo mungkin muncul seperti seorang ayah yang tidak
bertanggung jawab, ia mencoba yang terbaik dan bahkan bekerja di malam
hari sebagai layanan taksi pribadi.
Pada suatu hari, pelanggan taksi Jong Woo ditemukan tewas. Jong Woo
menjadi tersangka utama. Dia sekarang dikejar oleh semua orang.
Sementara itu, Gi-Hyuk yang bingung sekarang ayahnya menjadi tersangka
pembunuhan. Dia mencoba untuk mengungkap kebenaran sendiri.
Ya, meskipun film "Running Man" berbagi judul yang sama dengan variety
SBS show "Running Man," tapi keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa.
It's been 20 years since the corporations took over the world's governments. Their thirst for power and profits led to the corporate wars, a fierce global battle that laid waste to society as we know it. Born from the ash, the Council of Nine rose as a new law and order for this dark age.
To avenge the corporations' reckless destruction, the Council issues death warrants for all white collar criminals. Their hunter's - the BOUNTY KILLER. From amateur savage to graceful assassin, the BOUNTY KILLER'S now compete for body count, fame and a fat stack of cash. They're ending the plague of corporate greed by exterminating the self serving CEO and providing the survivors of the apocalypse with retribution. These are the new heroes. This is the age of the BOUNTY KILLER.
Film ini merupakan remake dari film Hongkong tahun 2007 berjudul Eye in the Sky. Cold Eyes menghadirkan sebuah aksi kriminal, polisi dan penjahat yang dipisahkan dengan frontal tanpa misteri, kemudian dibalut bersama aksi catch and run.
Film ini bercerita tentang detektif dari tim pengawasan dari unit kejahatan khusus yang bekerja sama untuk membongkar sebuah organisasi yang bekerja untuk merampok bank. Ya, Cold Eyes mengisahkan tentang sepak terjang sebuah tim pemberantas kejahatan yang bergerak di bidang Surveillance (pengamatan). Tugas mereka adalah untuk melacak, mengungkap & menangkap orang orang yang terlibat di beberapa perampokan yang terjadi di Korea.
Tokoh utama film ini adalah Ha yoon jo (Yoon jo) seorang anggota baru dari tim yang dipimpin oleh Chief Hwang (Kyung gu) untuk mengungkap kasus tersebut. Ha Yoon-ju ( Han Hyo-Joo ) menjadi anggota terbaru untuk bergabung dalam unit Angkatan Kepolisian Kriminal Khusus Korea yang mengkhususkan diri dalam kegiatan penyelidikan pada penjahat kelas tinggi.
Dia satu tim dengan Hwang Won-jin (Sol Kyung-Gu ) pemimpin veteran unit dan mencoba untuk melacak James (Jung Woo-Sung) yang merupakan pemimpin berhati dingin dari sebuah organisasi kriminal bersenjata.
Ini adalah salah satu film yang sangat detail dalam hal penjabaran mengenai cara cara dari tim Surveillance itu bekerja, baik dalam hal Gadget, cara mereka berkomunikasi, penyamaran, penempatan kamera, timing & posisi dari setiap masing masing personil. Pokoknya disajikan secara pas & teliti, begitu juga dengan tehnik yang dilakukan oleh James (Woo sung) untuk mengatur timnya.
Jadi disini masing masing pihak saling berpacu dengan waktu & adu kepandaian untuk mencapai tujuannya masing masing. Alur ceritanya enak untuk diikuti, menegangkan & gak membosankan, film terus terjaga tensinya hingga akhir. Penampilan para castnya juga terlihat pas, walaupun gak semua anggota tim dibahas disini. Yang menarik justru dari tokoh antagonisnya yaitu James yang tampil cool skaligus mengerikan.
Overall, Cold Eyes/Stakeout (Gam-si-ja-deul) adalah film yang cukup memuaskan. Cold Eyes jelas merupakan sebuah film yang menarik, bahkan tidak memberikan rasa bosan kepada penontonnya, hal yang penting. Yang ia tidak mampu lakukan hanya satu, mempertahankan agar excitement dari cerita tetap hidup, dan stabil, sama stabilnya dengan tensi dan tempo yang ia berikan.
Dengan pesan yang terlalu kecil untuk mencuri atensi, Cold Eyes lebih terasa seperti sebuah proses yang mencoba memberi tahu atau mungkin mempertajam lagi teknik-teknik yang dapat digunakan ketika anda mencoba melakukan pengintaian, tidak lebih dari itu.
Bersama Luc Besson, penulis David Marconi kembali bekerja di belakang kamera sebagai sutradara. Absennya selama 20 tahun sejak debutnya sebagai sutradara, sebuah film action yang ber-setting di gurun Sahara akhirnya berhasil ia selesaikan dan telah tayang di bioskop-bioskop dunia, termasuk Indonesia.
Didukung oleh salah satu aktor berdarah Perancis-Maroko, yakni Roschdy Zem, film berjudul “Intersections” ini bermula ketika pasangan pengantin baru, Scoot Dolan (Frank Grillo) dan istrinya Taylor (Jaimie Alexander), memutuskan untuk berbulan madu di Maroko.
Tetapi kemudian kebahagiaan Scoot Dolan harus perlahan lenyap karena Taylor yang baru saja dinikahinya diam-diam merencanakan pembunuhan terhadap dirinya, dengan bantuan kekasih Taylor, Travis (Charlie Bewley). Rencana pembunuhan tersebut rupanya tidak berjalan sesuai rencana, karena tiba-tiba saja semua pihak terlibat dalam kecelakaan mobil beruntun di padang gurun terpencil.
Mereka berhasil menyelamatkan diri dan kemudian bertemu korban-korban selamat lainnya, termasuk Omar (Moussa Maaskri), seorang penyelundup berlian yang ketika itu bersama polisi sedang dalam masa transfer ke penjara di daerah lain, juga Audrey (Marie-Jos e Croze), seorang wanita Perancis dan bayinya yang sedang sakit, serta seorang ‘tukang reparasi’ misterius bernama Saleh (Roschdy Zem).
Orang-orang yang tidak pernah bertemu satu sama lain sebelumnya ini mau tidak mau harus bersama untuk bertahan hidup. Sekelompok korban selamat itu kemudian memulai perjalanan bersama-sama dan mengalami banyak hambatan, termasuk masalah-masalah pribadi di antara mereka. Mereka tidak mempercayai satu sama lain, yang ada hanyalah kekerasan dan keinginan menghabisi yang lain. Dan keadaan semakin memanas ketika mereka sampai di jantung gurun Essaouira, ketika dua orang di antara mereka mati dan seorang penjahat baru muncul.
Intersections merupakan film produksiEuropaCorpbergenre romatic-thriller, dirilis pada 30 Januari 2013 lalu, diproduseri oleh Luc Besson dan disutradarai oleh David Marconi, sang penulis skenario film "Die Hard 4.0" dan "Enemy of the State".
Sebuah Film Musical Thriller terbaru "Plush", tentang penyanyi rock wanita (Emily Browning) yang hook up dengan gitaris (Xavier Samuel). Film produksi IM Global ini akan rilis di Bioskop September 2013 Internasional dan di Bioskop Indonesia September Oktober 2013.
Setelah kehilangan teman band dan kakaknya karna overdosis obat, bintang rock Hayley menemukan dirinya dalam sebuah spiral ke bawah. Album kedua dari band-nya 'Plush' diterima sebagai bencana kritis dan komersial. Dia menemukan harapan baru dan persahabatan di Enzo, gitaris pengganti yang mengilhami dia untuk mencapai ketinggian kreatif baru.
Tapi segera kolaborasi mereka melewati batas seksual. Sejarah kelam Hayley perlahan bermasalah buat Enzo, dia menyadari mungkin telah membiarkan orang gila ke rumah dan keluarganya, dan bahwa kesalahannya mungkin merenggut nyawa orang-orang terdekat dengannya.
Tak ingin ketinggalan dengan tren zombie yang tengah melanda dunia, dunia perfilman bollywood pun akhirnya merilis film zombie pertamanya. Ya, bertajuk Rise of Zombie, film karya sutradara Luke Kenny ini akan segera menambah daftar panjang dari deretan film zombie di seluruh dunia.
Uniknya, meskipun bergenre horor, film yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Luke Kenny tersebut dikabarkan akan tetap setia di karakter bollywoodnya. Bahkan film ini juga tetap menampilkan tarian-tarian khas India.
Neil seorang fotographer satwa liar. Ketika di sebuah hutan ia terkena gigitan yang lama kelamaan gigitan tersebut menyebabkan ia menjadi seorang zombie. Bagaimana kisah selanjutnya?
Zombie Hunter is set in a post-apocalyptic Zombie wasteland caused by the mysterious street drug "Natas". We follow one man who has nothing left other than a beat up Camaro and a trunk full of guns and booze. He runs down Flesh Eaters, hunting for sport and redemption, while also running from his past. After crashing into a small group of survivors, who are running low on resources, he decides to lend a hand. But a surprise attack by the Flesh Eaters forces them on the run and puts the Hunter's skills to the test.
White House Down berkisah mengenai John Cale (Channing Tatum), seorang anggota kepolisian ibukota Amerika Serikat yang kini bertugas sebagai salah seorang pengawal dari ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Eli Raphelson (Richard Jenkins).
Demi untuk menyenangkan puterinya, Emily (Joey King), yang begitu menggemari dunia politik, John kemudian berusaha untuk bergabung bersama dengan Dinas Rahasia Amerika Serikat. Sayang, sesi wawancara bersama Agent Carol Finnerty (Maggie Gyllenhaal) kemudian mengubur impian tersebut ketika John dinyatakan masih belum dapat memenuhi kualifikasi pegawai yang sedang dibutuhkan oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat.
Tidak ingin mengecewakan puterinya yang turut hadir dalam proses wawancara tersebut, John lalu mengajak Emily untuk mengikuti tur mengelilingi White House. Tidak berapa lama kemudian, sebuah bom berkekuatan cukup besar meledak di Gedung Capoitol yang lokasinya berdekatan dengan White House.
Kepanikan jelas kemudian melanda orang-orang yang berada di sekitar gedung tersebut – dan secara perlahan kemudian mulai menjalar ke seluruh masyarakat Amerika Serikat dan dunia.
Tidak berhenti disitu, sekelompok pemberontak yang dipimpin oleh Emil Stenz (Jason Clarke) kemudian menyerbu masuk ke dalam White House, membunuh setiap petugas keamanan yang mereka temui dan menyandera setiap orang yang berada di dalam White House sekaligus mengambil alih gedung tersebut untuk kemudian berusaha mencari Presiden Amerika Serikat, James Sawyer (Jamie Foxx), dan membunuhnya.
Tentu saja, John Cale tidak akan tinggal diam menyaksikan para pemberontak berusaha untuk menghancurkan negara sekaligus membunuh puterinya. Secara perlahan, John mulai mencari cara untuk mengamankan sang presiden sekaligus membawa puterinya keluar dari gedung tersebut.