Film Live Action yang rencananya akan dibagi menjadi 2 bagian terpisah ini, yang pertama
memiliki judul “Shingeki no Kyojin, dan film keduanya yang akan dirilis
pada tanggal 19 September akan disebut “Shingeki no Kyojin: End of The
World”. Mengisahakan tentang Ratusan tahun yang lalu, umat manusia
hampir dimusnahkan oleh Titans, yaitu makhluk humanoid raksasa yang
tidak punya akal budi, pemakan manusia yang hanya untuk kesenangan dan
bukan sebagai sumber makanan.
Untuk melindungi diri dari titan atau raksasa humanoid tersebut, sebagian kecil
dari manusia membangun sebuah kota dengan dinding yang lebih tinggi dari titan-titan tersebut. Setelah lebih dari seratus tahun, tak satu pun dari
titan yang berhasil menyeberang ke kota dengan tembok tinggi, sampai
suatu hari seorang titan kolosal yang muncul entah dari mana
beristirahat di dinding dan membuat jalan bagi titan kecil untuk
menyerang manusia.
Seorang remaja laki-laki yang bernama Eren bersama dengan adik angkatnya
Mikasa, dan sahabatnya Armin, merupakan saksi dari skenario mengerikan dari titan yang
telah melahap orang-orang di kota. Selanjutnya Eren, Armin dan Mikasa
bergabung dengan tim elit Korps Survey, sebuah tim khusus dalam misinya
untuk membunuh setiap titan sebagai balas dendam bagi umat manusia.
Lucy Heartfilia, Seorang anggota serikat penyihir Fairy Fairy, bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Eclair dan Momon (Partnernya). Eclair telah kehilangan ingatannya, dan satu-satunya dia ingat adalah bahwa ia harus memberikan "Batu Phoenix" yang dimiliki ke suatu tempat. Setelah itu, Fairy Tail diserang oleh Serikat Carbuncle, yang meluncurkan sebuah plot jahat
terhadap Fairy Tail.
Movie ini bersetting di sebuah kapal yang dijaga ketat oleh kementrian
pertahanan Jepang dan pasukan pertahanan maritim. Sesosok mayat dari
pasukan pertahanan maritim ditemukan tanpa tangan kirinya, dan seorang
mata-mata masuk ke dalam kapal. Ran kemudian terjebak dalam bahaya dan
Conan berusaha untuk menyelamatkannya.
Setelah berhasil menyelamatkan tahta kerajaan dewa-dewi Yunani, Percy menjadi sosok legendaris diantara teman-temannya. Walaupun begitu, sebuah permasalahan baru siap datang dan kembali menguji keberanian seorang Percy Jackson.
Percy Jackson: Sea of Monsters memulai penceritaannya ketika masalah tersebut suatu hari muncul setelah sesosok monster berhasil menerobos masuk ke dalam Camp Half-Blood dan mengancam keselamatan para penghuninya.
Setelah melalui penyelidikan, dua pimpinan Camp Half-Blood, Dionysus (Stanley Tucci) dan Chiron (Anthony Head), lalu menyadari bahwa pohon berdaya kekuatan magis yang selama ini melindungi Camp Half-Blood telah diracuni dan membuatnya tidak lagi mampu menjaga keamanan Camp Half-Blood dari serangan luar.
Untuk menghilangkan racun tersebut, Dionysus dan Chiron kemudian mengirimkan Clarisse La Rue (Leven Rambin) yang merupakan puteri keturunan dewa Ares untuk mencari Golden Fleece yang berada di kawasan Sea of Monsters – atau dikenal sebagai Segitiga Bermuda bagi para manusia biasa.
Keputusan untuk mengirimkan Clarisse jelas membuat Percy kecewa. Namun, bersama dengan Grover, Annabeth serta adik tirinya, Tyson (Douglas Smith) yang juga merupakan seorang keturunan Poseidon namun berwujud sebagai cyclops, Percy secara diam-diam berangkat meninggalkan Camp Half-Blood dan memulai sendiri petualangan barunya.
Bukan rahasia lagi jika Logan a.k.a The Wolverine adalah mutan paling menonjol dalam sejarah franchise X-Men. Pesonanya bukan hanya terletak pada kekuatan tulang belulang adamantium, termasuk cakar tajam ikonisnya itu atau juga healing ability-nya yang mampu membuatnya menjadi mahkluk abadi, namun dibalik semua ia sendiri adalah pribadi kompleks dengan kisah hidup panjang yang memang pantas dibuatkan spin-off- live action solo-nya, sesuatu yang tidak didapati bahkan oleh seorang Professor X atau Magneto sekalipun di mana keduanya sampai-sampai harus berbagi tempat dalam X-Men: First Class yang sesak.
Tetapi film pertamanya; X-Men Origins: Wolverine 2009 lalu itu terlalu lembek dan tumpul, bukan film yang pantas buat sang Wolverine, meskipun yah, ia cukup beruntung masih mampu membawa banyak Dollar pulang untuk modal sekuelnya.
Memilih The Wolverine sebagai tajuknya ketimbang Wolverine 2, sekuelnya yang juga merupakan instelemen ke-6 franchise X-Men ini jelas adalah perjudian besar Marvel mengingat film pertamanya tidak mendapatkan respon yang terlalu menggembirakan, taruhannya adalah nama Wolverine itu sendiri dan juga budget 125 juta Dollarnya, apalagi proyek ini sempat mengalami pukulan telak setelah mengalami penundaan akibat gempa dan tsunami Tohoku serta mundurnya Darren Aronofsky 2010 lalu hingga seperti yang kita tahu ada James Mangold yang akhirnya ditunjuk Marvel untuk menangani proyek ini.
Mungkin Arnofosky adalah pilihan bagus yang akan membawa The Wolverine ke level lebih tinggi atau mungkin sebaliknya, tetapi Mangold sendiri bukan sutradara kemaren sore, kita sudah melihat track recordnya, dari Girl, Intterupted, pemenang Oscar Walk the Line sampai 3:10 to Yuma, semua adalah film bagus, namun dunia superhero adalah ranah baru buat Mangold, salah melangkah bisa-bisa ia malah membuat The Wolverine menjadi sekonyol Knight and a Day.
Jadi apa yang dilakukan si Serigala pemarah ini di Jepang? Ia jelas tidak berlibur, mencari sushi segar atau berbelanja di kompleks pertokoan Shibuya. Settingnya terjadi paska The Last Stand, Logan masih terpukul atas kematian Jean Grey (Famke Janssen) yang selalu membayanginya di setiap mimpinya.
Lalu suatu hari ia bertemu Yukio (Rila Fukushima) yang membawanya ke Tokyo guna bertemu dengan Yashida (Haruhiko Yamanouchi) dan mengucapkan selamat tinggal kepada teman masa lalu yang pernah diselamatkannya yang kini tengah sekarat. Tetapi yang terjadi di sana adalah masalah baru yang melibatkan Yakuza dan mutant mematikan bernama Viper, plus kehadiran Mariko Yashida (Tao Okamoto), cucu Yashida yang membuat Logan jatuh hati.
Jika kamu membandingkannya dengan adaptasi live action Marvel lainya, The Wolverine mungkin masih belum menembus batasan parameter saudara-saudaranya itu, tetapi berkaca dari X-Men Origins: Wolverine, The Wolverine jelas mengalami perbaikan cukup signifikan di beberapa bagiannya meskipun yah ini juga bukan jenis film superhero yang bakal kamu kenang lama di kepala, namun setidaknya Mangold sudah melakukan pekerjaanya dengan cukup baik ketika mampu memberikan kesempatan buat karakter Logan berkembang lebih baik ketimbang seri pertamanya bersama narasi garapan trio Christopher McQuarrie, Mark Bomback dan Scott Frank yang diadaptasi dari komik Wolverine 1982-nya Chris Claremont dan Frank Miller.
Bagi beberapa penontonnya The Wolverine dirasa menderita terlalu banyak drama dan romansa untuk ukuran film superhero musim panas yang biasanya lebih didominasi dengan aksi spektakuler megah nan berisik. Namun itu sebenarnya bukan masalah besar, toh meskipun terasa generik plot The Wolverine masih lebih enak dinikmati ketimbang seri pertamanya dan Mangold sudah memberikan kesempatan buat karakter Logan yang bak Ronin untuk berkembang, memasuki dunia barunya yang asing, menjelajahi sisi traumatisnya paska The Last Stand yang ditandai dengan kemuculan Jean Grey dalam mimpi-mimpinya hingga ia bertemu Yukio yang sedikit banyak sudah menyebuhkannya dari banyak kehilangan besar termasuk kekuatannya.
Sementara sekuens aksinya juga tidak terlalu buruk sayang tidak semua momen pertarungannya mampu meninggalkan kesan seperti halnya pertarungan di atas kereta api yang melaju kencang itu, termasuk adegan puncaknya yang mempertemukan Logan dengan salah satu musuh besarnya, Silver Samurai berakhir terlalu cepat.
Ceritanya menjadi lembut dan lebih kelam, mungkin tidak cocok buat para penonton yang mencari sebuah sajian superhero musim panas seganas sosok sang pujaan, tetapi meskipun terlalu generik dan menawaarkan sedikit aksi, The Wolverine tampil lebih baik pada narasi dan pengembangan karakter sang Serigala yang terluka ketimbang seri pertamanya plus The Wolverine menjadi jembatan penting buat masa depan franchise X-Men kedepannya, khususnya X-Men: Days of Future Past 2014 nanti, ini bisa dilihat di mid-end credit scene-nya yang menampilkan sebuah kejutan besar.
Berkisah tentang dua orang polisi dari R.I.P.D (Rest In Peace Department), sebuah departemen yang bertugas untuk melindungi dan melayani umat manusia dan menangkap penjahat yang telah mati yang enggan masuk ke neraka. Veteran sheriff Roy Pulsifer (Jeff Bridges) telah menghabiskan karirnya sebagai polisi legendaris yang dikenal piawai melakukan pelacakan roh mengerikan yang cerdik menyamar sebagai orang biasa.
Misinya? Untuk menangkap dan mengadili penjahat yang berusaha melarikan diri dari penghakiman terakhir dengan bersembunyi di antara manusia di Bumi. Disini, Roy berpartner dengan Nick Walker (Ryan Reynolds), seorang polisi yang tewas karena dibunuh oleh penjahat.
Nick sendiri penasaran siapa yang telah membunuhnya dan berniat membalas dendam sembari melakukan pekerjaannya melawan penjahat-penjahat di neraka. Berdua mereka bahu-membahu mengembalikan keseimbangan kosmis... atau melihat terowongan akhirat mulai mengirimkan jiwa-jiwa jahat dan marah dengan cara yang sangat salah.
“If at first you don’t succeed, try
and try again”, tampaknya DC
Entertainment dan Legendary
Pictures di bawah bendera Warner
Bros tahu benar arti kutipan bijak
milik Thomas H. Palmer itu. Ya,
Meskipun tidak sampai merugi,
reboot layar lebar empat seri
Superman yang berjarak tiga dekade
lebih lalu dalam Superman Returns
rupanya tidak terlalu bersinar apalagi
jika kamu membandingkan dengan
gempuran dahsyat dari pahlawan-
pahlawan super geng Marvels
rivalnya meskipun Superman Returns
sesungguhnya bukan reboot yang
buruk dari Bryan Singer, dan percaya
tidak percaya, Superman Returns
kembali meneruskan kutukannya
sejak era George Reeves, lihat apa
yang terjadi dengan karier Brandon
Routh yang malang sekarang?
Tetapi ini adalah superhero terbesar
di dunia, sulit untuk tidak mengenal
pemilik logo “S” dengan spandex dan
celana dalam merah yang legendaris
itu, maka sayang jika kemudian tidak
memberikanya sebuah kesempatan
kedua untuk membuktikan bahwa
pesona si manusia baja belum habis.
Tidak ada embel-embel “Superman”
di judulnya, tetapi dengan logo
legendaris dan julukannya, sulit
untuk tidak mengetahui bahwa Man of
Steel adalah cerita tentang pahlawan
super ciptaan Jerry Siegel yang
sudah kita kenal sejak lahir yang kali
ini kembali mendapat awal baru
meskipun sempat tertunda
penayanganya sampai setahun.
Adalah seorang Zack Synder yang
kemudian mendapatkan kepercayaan
luar biasa dari DC untuk membawa
jagoanya memulai segalanya dari
titik nol. Seperti yang kita ketahui
Synder bukan sutradara kemaren
sore dalam hal mengadaptasi komik.
Ia pernah membuat Battle of
Thermopylae begitu luar biasa dalam
300 , dan yang lebih besar lagi ada
adaptasi komik Alan Moore yang
sukses digarapnya dengan fantastis,
menjadikan Watchmen salah satu
adaptasi superhero terbaik yang
pernah ada.
Aapalagi kali ini ia medapatkan
dukungan penuh dari David S. Goyer
di departemen naskah dan “The”
Chritopher Nolan di bangku produser
yang diam-diam juga memberikan
pengaruhnya kepada Snyder, ya,
kedua nama itu adalah manusia-
manusia hebat di balik kesukesan
besar trilogi The Dark Knight.
Ya, kembali ke titik nol. Snyder
membawa kembali semuanya ke
awal ke planet Krypton yang sekarat,
tepat disaat kelahiran putra pertama
Jor-El (Russel Crowe) dan Lara Lor-
Van (Ayelet Zurer), Kal-El. Krypton
yang diambang kehancuran dan
pembelotan yang dilakukan oleh
General Zod (Michael Shannon)
memaksa Jor-El mengirim Kal-El ke
bumi beserta rahasia besar bangsa
Krypton, dan selanjutnya yang terjadi
adalah sebuah awal baru dari cerita
lama tentang bayi alien yang
ditemukan oleh pasangan petani
Kansas, Jonathan dan Martha Kent
(Kevin Cotsner dan Diane Lane) yang
kelak akan kita kenal dengan nama
Superman.
Ada dua nama jebolan saga The Dark
Knight di sini, tentu saja epektasi kita
kemudian akan melayang tinggi ke
sebuah kisah superhero kelam,
manusiawi dan realistis, tetapi
beruntung itu tidak terjadi,
setidaknya 2 jam lebih Man of Steel
tidak di dominasi oleh drama gelap
tentang pencarian jati diri meskipun
masih ada nuansa realis namun tidak
sampai terjebak terlalu dalam, toh
kisahnya sendiri sebenarnya sudah
lebih dari manusiawi; Anak alien
yang dirawat manusia yang kemudian
membela mati-matian para manusia
ketimbang rasnya sendiri yang
nyaris punah.
Separuh pertamanya dikuasai oleh
drama pencarian jati diri seorang
pemuda Kansas bernama Clark Kent
yang berpetualang ke sana kemari
untuk mencari tahu siapa dirinya,
mengapa ia berbeda dan tujuannya
sampai harus tersesat di bumi.
Setelah momen seru di planet
Krypton yang melibatkan naga dan
berujung pada kehancuran besar
serta pelepasan Kar-El yang
emosional ceritanye kemudian
bergarak bolak balik ke depan dan ke
belakang (Bagian ini seperti
mendapatkan pengaruh kuat Nolan).
Jadi buat penonton awam yang
kurang atau tidak mengetahui asal
muasal sang laki-laki super ini
tenang saja Snyder akan
memberikanmu semuanya itu dengan
bungkusan gambar-gambar indah ala
Terrence Malick dan momen-momen
kepahlawan Clark muda sampai
dewasa sebelum ia mengenakan
seragam kebesarannya.
Mungkin dari titik ini alurnya
bergerak sedikit lambat dan terseok-
seok, ada kedalaman yang kurang
digali meskipun terlihat Synder
berusaha menghadirkan sisi
emosional terutama ketika Clark
a.k.a Kar-El berhubungan dengan
ayah-ayahnya, para mantan Robin
Hood itu.
Karakter Superman sendiri yang
diperankan seorang Inggris, bintang
The Tudors, Henry Cavill mungkin
bukan pilihan yang paling pas
terlebih jika kamu mau
membandingkannya dengan dua
aktor sebelumnya, tetapi usaha
melelahkan dan penuh perjuangan
yang dilakukannya (menambah berat
badan dan kapasitas otot agar pas
dengan konstum barunya yang
membuang cawat merah
legendarinya) rupanya cukup
membuahkan hasil. Dengan dagu
belah dan wajah tampannya Cavill
sukses menjadi versi modern
Superman ala Synder yang menawan,
terlihat perkasa.
Lalu karakter main villaint-nya
adalah General Zod yang sangat pas
untuk sebuah kisah awal,
pemerannya adalah Michael
Shannon, aktor watak hebat yang
tidak memerlukan usaha terlalu
keras untuk mengahadirkan aura
kejam dari seorang Jenderal
Kryptonian yang penuh dendam dan
ambisi.
Sementara ada Amy Adams yang
tampak sedikit terlalu tua untuk
peran Lois Lane, love interst
Superman. Perannya tidak terlalu
signifikan namun Superman tanpa
kehadiran Lois Lane itu jelas aneh,
dan ada sedikit twist di sini yang di
buat Snyder yang melibatkan
karakter Lois yang berbeda dengan
komik atau film-film sebelumnya.
Snyder mungkin bukan seorang
storyteller yang handal, kamu bisa
saja menghujat bahwa alurnya
sedikit berantakan dan melelahkan,
tetapi jangan pernah meragukan
Synder dan kemampuannya
menghadirkan rangkaian action
sekuens spektakuler. Ya, meskipun
kali ini tidak melibatkan efek
slowmotion yang menjadi ciri
khasnya (imej cepat Superman tidak
cocok dislowmotion kan) namun
siapa yang bisa menahan
pertarungan antara sang Manusia
Super dengan para Kryptonian (Selain
Zod ada karkter Faora yang keren
yang dimainkan si cantik Antje
Traue).
Ini seperti melihat kombinasi
pertarungan dahyat dalam anime
populer Jepang Dragon Ball dan
video game dengan segala kecepatan
luar biasa, sudut pandang yang asik,
scoring heroik garapan komposer
bertangan dingin Hans Zimmer dan
tentu saja spesial efek dan ledakan
yang fantastis, ya, mungkin
durasinya tidak terlalu banyak
dibanding dramanya dan efek 3D-nya
buruk, namun apa yang dihadirkan
Snyder itu sudah lebih dari cukup
untuk membuatmu berdecak kagum
terutama ketika para alien-alien
super berpakian ketat itu
berhantaman ria satu sama lain,
membuat tembok-tembok keras
hancur seperti kerupuk dan
meluluhlantakan Metropolis seperti
bagunan pasir. Skalanya dinaikan
dua kali lipat lebih besar ketimbang
Superman Returns.
Zack Snyder dengan dukungan
nama-nama besar di balik
kesuksesan reboot Batman membawa
kembali kisah si Manusia Baja
kembali ke awal, memodifikasinya
dengan sentuhan modern dan
mencoba menyeimbangkan drama
tentang pencrian jati diri yang
manusiawi dan parade action
dahysat, meskipun kombinasinya
terasa bekerja di satu sisi saja,
namun ini adalah awal yang bagus
dari franchise sebesar Superman.
Di masa depan, umat manusia dikejutkan dengan kemunculan monster raksasa yang muncul dari dasar Samudera Pasifik. Awalnya monster yang disebut kaiju tersebut hanya muncul seekor dan butuh waktu seminggu bagi pasukan militer untuk mengalahkannya. Namun beberapa waktu berselang makin banyak lagi kaiju bermunculan dan memporak porandakan seluruh dunia serta memakan korban hingga jutaan nyawa.
Kemudian harapan muncul saat pemerintah dunai bersatu dan terciptalah sebuah proyek untuk melakukan perlawanan terhadap kaiju. Proyek tersebut adalah membangun robot raksasa yang diberi nama Jaegers. Robot itu membutuhkan dua orang pilot untuk mengoperasikannya, dimana pikiran kedua pilot tersebut akan saling terhubung satu sama lain.
Raleigh (Charlie Hunnam) merupakan salah satu pilot jaegers yang sudah berhasil membunuh banyak kaiju. Namun setelah sang kakak yang menjadi partnernya tewas saat bertugas ia memutuskan pensiun.
Beberapa tahun berlalu kaiju semakin banyak dan makin kuat dimana monster-monster itu mulai saling beradaptasi dalam pertarungan melawan jaegers. Disaat kaiju makin banyak, jumlah jaegers yang tersisa beserta pilotnya makin sedikit. Pada saat inilah Marshall Stacker (Idris Elba) memanggil kembali Raleigh untuk terjun ke medan perang.
Pacific Rim dibuka dengan luar biasa saat kita dipertontonkan tentang bagaimana kaiju pertama muncul dan mulai menghancurkan banyak tempat. Ancaman yang dihadirkan monster-monster raksasa tersebut terasa begitu mengerikan sedari adegan pembukanya. Gambar-gambar yang memperlihatkan bagaimana monster berukuran raksasa yang akan membuat T-Rex terlihat seperti semut terasa begitu megah.
Apa jadinya seorang komedian Seth Rogen membuat film komedi tentang kiamat? This is the End menceritakan tentang 6 sahabat yang terjebak dalam sebuah rumah saat serangkaian kejadian aneh dan bencana menimpa Kota Los Angeles.
Saat keadaan diluar semakin tak terkendali, sedangkan pasokan kebutuhan mereka untuk bertahan hidup di dalam rumah tersebut pun semakin menipis, keutuhan persahabatan mereka pun diuji.
Akhirnya, keadaan memaksa mereka untuk meninggalkan rumah. Mereka harus menghadapi takdir mereka sekaligus lebih memaknai arti persahabatan yang sesungguhnya.
Inilah salah satu film dengan ide
yang orisinal tapi sangat aneh
pengaplikasiannya. Gallowwalkers
merupakan film come back-nya
Wesley Snipes. Jika sebelumnya dia
bertarung dengan Vampire di film
Blade, maka kali ini dia akan
melawan Zombie koboi.
Ada yang berbeda dengan Zombie
pada Gallowwalkers dengan Zombie
pada film-film lainnya. Zombie disini
bisa berpikir, menunggang kuda,
bahkan hidup seperti layaknya
manusia normal. Zombie di sini
maksudnya adalah mereka yang
bangkit dari kematiannya dan hidup
kembali.
Dikisahkan Aman (Wesley Snipes)
adalah orang yang dikutuk. Setiap
orang yang dibunuhnya akan hidup
kembali, dan dia harus kembali
membunuh orang itu. Dia lalu
merekrut seorang penembak handal
Fabulos (Riley Smith) untuk
membantunya menghabisi para
Zombie.
Diangkat dari seri buku cerita berjudul The Guardians of Childhood karya
William Joyce – yang film animasi pendek-nya, The Fantastic Flying
Books of Mr. Morris Lessmore, memenangkan Academy Awards pada tahun
lalu, Rise of the Guardians mencoba untuk menggabungkan beberapa tokoh
mitos ikonik ke dalam satu rangkaian cerita.
Dikisahkan, North (yang merupakan penggambaran dari Santa Claus, Alec
Baldwin), E.Aster Bunnymund (yang merupakan penggambaran dari kelinci
Paskah, Hugh Jackman), Tooth (yang merupakan penggambaran dari Peri
Gigi, Isla Fisher) serta Sandy (penggambaran dari The Sandman yang
bertugas untuk memberikan mimpi baik bagi para anak-anak) telah lama
dipilih oleh Man in the Moon menjadi Guardians yang memiliki tanggung
jawab untuk menjaga agar perasaan bahagia selalu hadir dalam hati setiap
anak-anak di dunia.
Sebaliknya, kebahagiaan dari anak-anak dan kepercayaan mereka terhadap
karakter-karakter mitos tersebut adalah sebuah kekuatan tersendiri yang
akan tetap mampu menjaga keberadaan dari para Guardians.
Setelah sekian lama tugas mereka tidak pernah menemui masalah, suatu
malam North dikejutkan dengan kehadiran bayangan Pitch Black (Jude Law)
yang dikenal sebagai sosok yang selalu menebar rasa takut dalam setiap
kehadirannya.
Merasa khawatir, North lalu mengumpulkan para Guardians lainnya dan
kemudian meminta petunjuk pada Man in the Moon mengenai langkah apa yang
seharusnya mereka ambil untuk mencegah Pitch Black dari niatnya untuk
menebar teror ketakutan pada anak-anak.
Secara mengejutkan, Man in the Moon kemudian menunjuk agar para
Guardians merangkul Jack Frost (Chris Pine) – yang selama ini lebih
dikenal sebagai karakter yang selalu menimbulkan kekacauan – untuk
menjadi seorang Guardians lainnya.
Walau awalnya merasa tidak percaya, namun para Guardians akhirnya
memilih untuk bekerjasama dengan Jack Frost dan mulai menyusun rencana
untuk melawan kekuatan gelap Pitch Black.
Jalan cerita Rise of the Guardians sendiri harus diakui bukanlah sebuah
jalan cerita yang mampu menawarkan sebuah tema penceritaan baru:
sekelompok karakter protagonis harus bersatu untuk melawan satu sosok
antagonis, serta dalam perjalanan tersebut, masing-masing mulai
menemukan bahwa mereka sama-sama memiliki karakteristik unik yang
kemudian justru dijadikan kekuatan dalam melawan sang karakter
antagonis.
Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh David Lindsay-Abaire (Rabbit
Hole, 2010), Rise of Guardians justru mampu memberikan sebuah sajian
menarik melalui cara film ini ketika menghadirkan twist dalam kisah
latar belakang kehidupan para karakter-karakter mitos yang selama ini
telah begitu dikenal luas oleh banyak kalangan.
Lewat jalan yang sama itu pula, Lindsay-Abaire mampu menggali setiap
karakter dengan baik sehingga dapat terasa begitu familiar dan hangat
bagi para penonton film ini. Yang juga mampu membuat Rise of the
Guardians tampil kuat bercerita adalah tata visual film ini yang mampu
menghadirkan sajian-sajian gambar yang begitu indah.
Rise of the Guardians juga merupakan salah satu film animasi yang
berhasil memanfaatkan penggunaan teknologi 3D dengan begitu baik.
Kehadiran teknologi 3D tersebut membuat banyak adegan dalam film ini
menjadi jauh lebih hidup dan mengesankan.
Keberhasilan penggalian kisah para karakter yang dihadirkan dalam film
ini juga didukung dengan kemampuan para pengisi suara untuk menjadikan
karakter mereka menjadi hidup. Diantara seluruh pengisi suara, Jude Law
mampu hadir dengan istimewa dalam membawakan karakter antagonisnya,
Pitch Black. Begitu juga dengan Hugh Jackman yang hadir membawakan aksen
Australia-nya pada karakter E.Aster Bunnymund.
Rise of the Guardians juga menampilkan karakter-karakter pendukung kecil
yang seringkali mampu mencuri perhatian lewat gerak-geriknya maupun
dialog one-liner yang jenaka – satu kekhasan yang sepertinya terus
digunakan semenjak kesuksesan para karakter minions dalam Despicable Me
(2010).
Rise of the Guardians mungkin adalah salah satu contoh dimana sebuah
film mampu bercerita lebih kuat melalui tampilan visualnya daripada
sajian naskah ceritanya – walau hal tersebut tidak murni berarti bahwa
Rise of the Guardians memiliki sebuah susunan naskah cerita yang buruk.
Plot cerita film ini jelas merupakan sebuah plot cerita petualangan
standar yang telah berulang kali diproduksi Hollywood. Keberhasilan
penulis naskah David Lindsay-Abaire untuk membangun karakter-karakter
mitos ikonik dengan latar belakang kehidupan berbeda-lah yang kemudian
membuat jalan cerita Rise of the Guardians mampu tampil sedikit
istimewa.
Didukung dengan kemampuan para pengisi suara film ini untuk menghidupkan
karakter-karakter yang mereka perankan, Rise of the Guardians berhasil
hadir sebagai sebuah film animasi yang sangat menyenangkan untuk
disaksikan.
Walau telah terbit dalam bentuk seri komik yang dirilis oleh Marvel
Comics semenjak tahun 1966, tidak hingga tahun 2001 Thor akhirnya mampu
menarik perhatian Hollywood untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film
layar lebar. Pun begitu, semenjak ditinggalkan oleh Sam Raimi –
sutradara pertama yang berminat dan telah mengembangkan konsep cerita
adaptasi kisah Thor ke layar lebar – Thor menjadi terbengkalai sebelum
akhirnya hak adaptasi layar lebar dari seri komik tersebut dibeli oleh
Paramount Pictures di tahun 2006.
Setelah lagi-lagi ditinggalkan oleh beberapa sutradara, Kenneth Branagh
akhirnya terpilih sebagai sutradara Thor di tahun 2008. Terkenal sebagai
seorang yang bertangan dingin dalam mengadaptasi karya-karya William
Shakespeare, Branagh ternyata memiliki kemampuan yang cukup hangat untuk
menangani sebuah adaptasi kisah seri komik dan menjadikan Thor ringan
dan menyenangkan untuk disaksikan namun tetap tidak kehilangan esensi
ceritanya secara keseluruhan.
Berbeda dengan karakter-karakter superhero lainnya yang ada di seri
komik rilisan Marvel Comics, Thor tidak memiliki kekuatan buatan yang
berasal dari kemajuan teknologi manusia. Thor merupakan seorang
keturunan dewa, dengan kekuatan fisik yang jauh lebih tangguh serta
dilengkapi dengan sebuah palu berkekuatan dahsyat sebagai senjata
andalannya.
Thor (Chris Hemsworth) merupakan anak pertama dari Odin (Anthony
Hopkins) dan Frigga (Rene Russo), dewa yang menguasai Asgard. Dilihat
dari fisik dan kemampuannya memimpin, Thor merupakan seorang penerus
kerajaan yang wajar bagi Odin daripada putera keduanya, Loki (Tom
Hiddleston). Walau begitu, sifat egois dan arogan yang dimiliki oleh
Thor dinilai Odin adalah halangan Thor untuk duduk di singgasana
kerajaan.
Bahkan, pada satu titik, setelah Thor tidak dapat mengenyampingkan
arogansi dirinya, Odin akhirnya menghukum Thor, mencabut segala
kekuatannya dan mengirimkannya ke Bumi. Beruntung, kejatuhannya ke Bumi
diselamatkan oleh Jane Foster (Natalie Portman), seorang astrophysicist
yang saat itu sedang bekerja bersama rekan kerjanya, Erik Selvig
(Stellan Skarsgård) dan Darcy Lewis (Kat Dennings).
Kejatuhan palu berkekuatan dahsyat milik Thor, yang juga dikirimkan Odin
ke Bumi namun hanya akan dapat digunakan bila seseorang memang pantas
untuk menggunakan kekuatannya, ternyata menarik perhatian banyak orang,
termasuk beberapa agen rahasia yang mengaku bahwa mereka berasal dari
Strategic Homeland Intervention, Enforcement and Logistics Division
(S.H.I.E.L.D.).
Di Asgard sendiri, jatuhnya Thor membuat Loki segera berniat merebut
singgasana dari tangan Odin. Sebuah tindakan yang akhirnya memicu sebuah
kekalutan bagi penghuni jagad raya tersebut.
Sebagai sebuah karakter yang belum pernah dikenal sebelumnya, naskah
cerita yang ditulis oleh Don Payne, Ashley Miller dan Zack Stentz harus
diakui cukup mampu untuk memberikan perkenalan yang cukup mendalam
mengenai asal-usul dan latar belakang kehidupan dari Thor.
Pun begitu, seperti halnya naskah cerita dwilogi Iron Man
(2008 – 2010), Thor tidak pernah terasa berjalan terlalu serius:
humor-humor segar dan singkat yang dihadirkan di banyak dialog film
membuat Thor tetap mampu berjalan ringan dan menghibur.
Sayangnya, mengulang kesalahan Iron Man 2
(2010) dan Captain America: The First Avenger (2011), bagian
penceritaan mengenai pengenalan keberadaan dari kelompok S.H.I.E.L.D. –
yang nantinya akan menyatukan para superhero Marvel Comics dalam satu
kisah, The Avengers
(2012) – terasa menjadi sebuah bagian yang terlalu dipaksakan untuk ada
dengan esensi cerita yang kurang begitu terasa keberadaannya. Ini yang
membuat bagian cerita Thor yang berlatar belakang di Bumi terasa kurang
mampu mengimbangi intensitas bagian cerita Thor ketika film ini sedang
berlatar belakang cerita di Asgard.
Kelemahan-kelemahan yang terdapat di naskah cerita untungnya seringkali
dapat disembunyikan oleh performa para pengisi departemen akting film
ini dengan begitu sempurna. Chris Hemsworth menunjukkan kharisma dan
kapabilitas yang luar biasa untuk menjadi seorang superhero. Fisik
Hemsworth memang terasa begitu pas untuk memerankan karakter Thor, namun
kemampuannya untuk menggambarkan bagaimana perubahan sifat Thor dari
seorang pria yang begitu angkuh menjadi seorang karakter baru yang lebih
rendah hati-lah yang membuat kemampuan akting Hemsworth terasa begitu
meyakinkan.
Hemsworth juga menjalin chemistry yang sangat baik dengan pemeran
karakter Jane Foster, Natalie Portman. Portman, seperti biasa,
menunjukkan kelasnya sebagai seorang aktris yang handal. Pun begitu,
kisah cinta yang terbentuk antara karakter Thor dan Jane Foster
sayangnya kurang mampu dikembangkan dengan sempurna dan seringkali
terasa terlalu terburu-buru untuk dihadirkan.
Para pemeran pendukung lainnya juga mampu membuat Thor hadir semakin
solid. Anthony Hopkins memberikan sebuah penampilan yang walaupun sama
sekali bukan penampilan yang baru bagi aktor tersebut, namun tetap mampu
hadir dengan memikat. Stellan Skarsgård dan Kat Dennings menjadi
pendamping yanng begitu sempurna bagi Portman, dengan Dennings menjadi
penyuplai terbesar momen-momen komedi di dalam film ini.
Jangan lupakan pula peran Tom Hiddleston yang mampu menggambarkan Loki
sebagai sosok karakter yang begitu kelam dan Idris Elba yang begitu
kharismatik dalam memerankan karakter Heimsdall.
Setelah terakhir kali mengarahkan remake Sleuth (2007), Kenneth Branagh
juga terbukti masih belum kehilangan kemampuan pengarahannya yang
handal. Pada Thor, Branagh mampu menghadirkan intrik cerita antara
karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini dengan begitu
baik – seperti cara ia menghadirkan intrik-intrik drama yang banyak
menghiasi jalan cerita milik William Shakespeare. Dan hal tersebut
begitu terasa khususnya ketika Thor berfokus penuh pada pertentangan
keluarga yang terjadi antara karakter Thor, Odin dan Loki.
Branagh juga mampu menghadirkan eksekusi tata produksi yang baik
terhadap tampilan visual dan suara di sepanjang penceritaan Thor. Secara
keseluruhan, Thor tampil begitu sempurna sebagai sebuah film yang
berusaha untuk menghadirkan hiburan penuh bagi penontonnya.
Film ini tidak pernah terlalu serius atau ambisius dalam usahanya
memperkenalkan karakter Thor dan karakter-karakter lainnya, namun juga
tetap mampu menghadirkan intrik yang memikat dari jalinan kisah-kisah
yang dihadirkan, terima kasih atas pengalaman Kenneth Branagh dalam
mengarahkan intrik drama mendalam dari adaptasi kisah-kisah William
Shakespeare.
Didukung dengan kemampuan akting yang sempurna dari jajaran pengisi
departemen aktingnya serta sebuah tata produksi visual dan efek suara
yang meyakinkan, Thor mampu hadir sebagai sebuah film adaptasi Marvel
Comics terbaik diantara film-film adaptasi lainnya.
Walt Disney Animation Studios sepertinya telah banyak belajar begitu banyak hal dari
kerja sama mereka dengan Pixar Animation
Studios. Setelah film-film animasi seperti
Tangled (2010) dan The Princess and the
Frog (2009), yang masih mempertahankan
pola penceritaan tradisional khas Walt Disney
namun mulai mendekati tampilan visual khas
Pixar, Wreck-It Ralph sepertinya menandai
masa dimana Walt Disney mulai mampu
menghasilkan film animasi dengan jalan
penceritaan yang lebih modern dan imajinatif
namun, tentu saja, tetap mempertahankan
kehangatan tampilan jalan cerita seperti yang
selalu dilakukan film-film produksi Walt
Disney sebelumnya.
Sebuah paduan kuat yang jelas akan
membuat bendera Walt Disney Animation
Studios kembali berkibar di tengah panasnya
persaingan film-film animasi di Hollywood.
Dibuka dengan film animasi pendek berjudul
Paperman karya John Kahrs – yang dalam
durasinya sepanjang 7 menit akan mampu
mempesona siapa saja yang menyaksikannya,
Wreck-It Ralph berkisah mengenai Wreck-It
Ralph (John C. Reilly), karakter antagonis
utama dalam permainan video berjudul Fix-It
Felix, Jr.. Ralph sepertinya mulai jenuh
dengan gelar sebagai karakter antagonis
yang membuatnya harus menerima perlakuan
yang tidak menyenangkan dari karakter-
karakter lain yang ada di permainan video
Fix-It Felix, Jr..
Puncaknya adalah ketika karakter-karakter
lain dari Fix-It Felix, Jr. merayakan 30 tahun
usia perilisan permainan video tersebut tanpa
mengundangnya. Ralph lalu bertekad untuk
mendapatkan sebuah medali seperti yang
selalu didapatkan oleh Fix-It Felix, Jr. (Jack
McBrayer) untuk membuktikan pada teman-
temannya bahwa dirinya juga mampu menjadi
sesosok pahlawan.
Ralph kemudian secara diam-diam
menyelinap ke sebuah permainan video lain
yang bertema peperangan, Hero’s Duty, untuk
memulai usahanya dalam meraih sebuah
medali. Seperti yang dapat diduga, Ralph
mulai mengacaukan struktur permainan video
Hero’s Duty.
Namun di permainan video Sugar Rush-lah
Ralph kemudian bertemu dengan karakter
bernama Vanellope Von Schweetz (Sarah
Silverman) yang dengan segera menjadi
sahabat barunya. Bersama dengan Vanellope,
Ralph belajar banyak hal tentang kehidupan.
Di saat yang sama, permainan video Fix-It
Felix, Jr. jelas tidak akan mampu bekerja
dengan baik tanpa kehadiran karakter
antagonis utamanya – situasi yang kemudian
membuat permainan video tersebut dianggap
rusak dan terancam untuk dicabut
keberadaannya oleh pemiliknya.
Naskah cerita Wreck-It Ralph yang ditulis
oleh Phil Johnston (Cedar Rapids, 2011) dan
Jennifer Lee sebenarnya bukanlah sebuah
rangkaian alur cerita yang dapat dirasa unik
maupun belum pernah diceritakan
sebelumnya.
Wreck-It Ralph memiliki alur penceritaan
yang sangat sederhana, namun keberhasilan
Johnston dan Lee untuk merangkai kisah
yang sederhana dan familiar tersebut dengan
penampilan serta kesan modernlah yang
lantas membuat Wreck-It Ralph terasa begitu
menyegarkan – sebuah formula yang jelas
telah seringkali sukses dimanfaatkan oleh
Pixar Animation Studios dalam setiap film-
film yang sukses mereka rilis ke pasaran.
Nilai-nilai kekeluargaan serta persahabatan
yang selalu hadir dalam setiap film karya
Walt Disney Pictures meluncur dengan lancar
melalui dialog-dialog cerdas serta humoris
nan menghibur sehingga membuat Wreck-It
Ralph sama sekali tidak pernah terkesan
menggurui dan terbeban dengan begitu
banyak pesan moral yang ingin disampaikan
pada para penonton mudanya.
Imajinasi liar Johnston dan Lee – yang juga
dibantu oleh sutradara film ini, Rich Moore,
serta Jim Reardon (WALL·E, 2008) dalam
menggarap ide cerita Wreck-It Ralph – yang
mempersatukan berbagai karakter permainan
video mulai dari karakter-karakter di
permainan video Pac-Man, Street Fighter,
Tapper, Q*bert sampai Sonic the Hedgehog
dalam sebuah komunitas kehidupan digital
juga mambantu memberikan warna cerita
yang lebih kuat bagi Wreck-It Ralph.
Ditambah lagi dengan keberhasilan Moore
dalam mengintegrasikan berbagai kisah latar
belakang karakter-karakter permainan video
tersebut ke dalam jalan cerita Wreck-It Ralph,
tidak mengherankan jika kemudian film ini
berhasil tampil memiliki daya tarik yang
sangat menyenangkan bagi para penonton
dewasa.
Departemen pengisi suara serta tata produksi
sepertinya adalah beberapa hal yang tidak
perlu diragukan lagi kualitasnya dalam setiap
film-film yang diproduksi oleh Walt Disney.
Deretan pengisi suara yang terdiri dari John
C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer,
Jane Lynch hingga Alan Tudyk berhasil
memberikan interpretasi suara terbaik mereka
dalam menghidupkan setiap karakter yang
mereka perankan.
Begitu pula dengan tampilan visual serta tata
suara yang disajikan di sepanjang
penceritaan Wreck-It Ralph. Film animasi ini
diisi dengan warna-warni lembut yang sangat
menyenangkan dan indah untuk disaksikan.
Sementara itu, departemen suara juga mampu
menonjolkan kualitas yang prima ketika
dibutuhkan untuk menghasilkan tingkat
intensitas emosional yang berbeda-beda bagi
jalan cerita film ini. Jika Frankenweenie
berhasil muncul sebagai film animasi terbaik
tahun ini dengan penceritaannya yang
tergolong moody dan cenderung dewasa,
maka Wreck-It Ralph jelas hadir dengan
kualitas penceritaan berkualitas sama kuat
namun dengan daya tarik yang lebih luas.
Berbekal pengalamannya dalam mengarahkan
deretan serial animasi televisi seperti The
Simpsons dan Futurama, Rich Moore mampu
membawakan Wreck-It Ralph menjadi sebuah
film animasi yang kental akan nuansa pop
culture-nya namun tetap berhasil hadir
dengan jalan cerita yang cerdas serta
menghibur walau disajikan dengan
penceritaan yang begitu sederhana.
Bersama dengan Brave dan Frankenweenie
yang telah dirilis sebelumnya, Walt Disney
Pictures jelas memiliki tahun yang sangat
cerah di dunia animasi — dan, percayalah,
tiga slot nominasi di kategori Best Animated
Feature pada ajang Academy Awards
mendatang.
Film ini mengisahkan tentang
seorang pemuda yang wajahnya
biasa - biasa saja mampu
memberikan kepuasan batin bagi
perempuan yang berhasrat tinggi.
Siapapun itu baik itu masih gadis
atau sudah janda mau dilayani
oleh nya, bahkan berita ini
tersebar kemana-mana hingga
akhirnya banyak perempuan-
perempuan yang mengantri untuk
mendapat kepuasan darinya.