Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label Animation Movies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Animation Movies. Tampilkan semua postingan

Dragon Nest: Warriors' Dawn BluRay + Subtitle Indonesia


Review:
Dragon Nest Warrior's Dawn adalah film animasi persembahan dari Mili Pictures . di-adaptasi dari game online MORPG : Dragon Nest milik EyeDentity Korea yang dikeluarkan tahun 2009 lalu, di Indonesia sendiri sudah ada game nya sejak tahun 2012 bernama Dragon Nest Indonesia. Dan akhirnya sebuah studio di China akan membuat versi layar lebarnya.

Menceritakan tentang kisah sebuah negara Altera dimana manusia, elf, dan binatang jahat saling hidup bersama dan takluk pada Black Dragon. Saat Black Dragon terbangun dari proses hibernasinya dan mengirim binatang untuk bergerak melintasi negara Alteran di saat itu penaklukan menjadi dekat.

Dari situ, sekelompok kecil manusia dan elf bersatu untuk menghancurkan Black Dragon dan nasib mereka pun ada ditangan Lambert. Seorang prajurit muda harus mengumpulkan segala keyakinan untuk mengalahkan Black Dragon.


DOWNLOAD
http://adf.ly/4208304/dragon-nest-warriordawn

SCREENSHOTS 


{[['']]}

Fairy Tail The Movie : Priestess of The Phoenix +Subtitle Indonesia



Lucy Heartfilia, Seorang anggota serikat penyihir Fairy Fairy, bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Eclair dan Momon (Partnernya). Eclair telah kehilangan ingatannya, dan satu-satunya dia ingat adalah bahwa ia harus memberikan "Batu Phoenix" yang dimiliki ke suatu tempat. Setelah itu, Fairy Tail diserang oleh Serikat Carbuncle, yang meluncurkan sebuah plot jahat
terhadap Fairy Tail.


DOWNLOAD

Link



Jika sobat kesusahan dalam mendownload silahkan simak
(
Cara mendownload Files di Tusfiles)

Alternatif Link


Gunakan Link Alternatif Jika Link Utama Susah di Akses



WATCH THE TRAILER HERE 


{[['']]}

Detective Conan The Movie : Private Eye in the Distant Sea +Subtitle Indonesia



Movie ini bersetting di sebuah kapal yang dijaga ketat oleh kementrian pertahanan Jepang dan pasukan pertahanan maritim. Sesosok mayat dari pasukan pertahanan maritim ditemukan tanpa tangan kirinya, dan seorang mata-mata masuk ke dalam kapal. Ran kemudian terjebak dalam bahaya dan Conan berusaha untuk menyelamatkannya.



DOWNLOAD

Link


Click Here - Subtitle

Jika sobat kesusahan dalam mendownload silahkan simak
(
Cara mendownload Files di Tusfiles)

Alternatif Link


Gunakan Link Alternatif Jika Link Utama Susah di Akses


For More Subtitle Visit


WATCH THE TRAILER HERE


{[['']]}

Planes +Subtitle Indonesia

 

Menjadi pembalap adalah impian pesawat yang satu ini sejak kecil. Pada waktu luangnya, Ia terus berlatih walaupun keadaan tidak mendukung. Namun suatu hari dengan bantuan teman-teman dan mentornya, Ia berkesempatan mengikuti babak kualifikasi kejuaraan olahraga dunia! Dapatkah ia mengeluarkan kemampuan terbaiknya?


DOWNLOAD

Link


Click Here - Subtitle

Jika sobat kesusahan dalam mendownload silahkan simak
(
Cara mendownload Files di Tusfiles)

Alternatif Link


Gunakan Link Alternatif Jika Link Utama Susah di Akses



MORE SCREENSHOT





WATCH THE TRAILER HERE 

{[['']]}

Rio +Subtitle Indonesia

Dalam film ini, penonton akan dikenalkan kepada Blu (Jesse Eisenberg), seekor burung makaw biru yang dulunya diselundupkan dari Rio de Janeiro, Brazil, sebelum akhirnya ditemukan dan kemudian dirawat oleh Linda Gunderson (Leslie Mann).

Walaupun cerdas, Blu yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan sesama burung lainnya, akhirnya memiliki kepribadian yang tertutup pada orang lain, cenderung ceroboh dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk terbang.

Tanpa disangka, seorang ahli burung asal Brazil, Túlio Monteiro (Rodrigo Santoro), kemudian mendatangani Linda dan mengatakan bahwa Blu adalah burung berjenis kelamin pria terakhir dari dari spesies burung makaw biru.

Karenanya, Túlio kemudian berniat untuk membawa Blu untuk kemudian dijodohkan dengan Jewel (Anne Hathaway), burung makaw biru berjenis kelamin perempuan yang saat ini sedang berada di bawah perawatan Túlio.

Walau awalnya Linda menolak karena takut berpisah dengan Blu, namun akhirnya Linda menerima tawaran Túlio untuk berangkat ke Brazil bersama Blu guna menghindarkan spesies makaw biru dari kepunahan.

Di saat yang sama, seorang penyeludup burung eksotis Brazil, Marcel (Carlos Ponce), ternyata telah menyusun rencana untuk menculik Blu dan Jewel serta menjualnya ke pasar gelap dengan harga yang sangat tinggi.



DOWNLOAD


Jika sobat kesusahan dalam mendownload silahkan simak
(
Cara mendownload Files di Tusfiles)

Alternatif Link

Click Here - Movies

Click Here - Subtitle

Gunakan Link Alternatif Jika Link Utama Susah Di Akses



MORE SCREENSHOT





WATCH THE TRAILER HERE



 

{[['']]}

Despicable Me 2 +Subtitle Indonesia

Well… sebagai sebuah karya perdana, Despicable Me (2010) jelas bukanlah sebuah karya yang buruk. Meskipun dengan naskah cerita yang jelas jauh dari kecerdasan film-film animasi karya Pixar Animation Studios, termasuk sekuel dari film-film animasi yang mereka produksi, film yang diproduksi oleh Illumination Entertainment ini masih mampu tampil menghibur dengan deretan pengisi suara yang berhasil menghidupkan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita, pemanfaatan efek visual yang maksimal dan… kehadiran karakter pendukung bernama minions yang secara mengejutkan mampu mencuri perhatian begitu banyak penonton dunia.

Dengan formula tersebut, Despicable Me yang dibuat dengan biaya produksi sebesar hanya US$69 juta berhasil mengumpulkan total pendapatan sebesar lebih dari US$543 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia. Atau dalam bahasa lain di Hollywood…

sekuel!
Masih mengandalkan naskah cerita yang ditulis oleh duo Cinco Paul dan Ken Daurio serta pengarahan dari Pierre Coffin dan Chris Renaud, Despicable Me 2 sayangnya tetap tidak akan menghadirkan kualitas penceritaan yang lebih baik jika dibandingkan dengan seri pendahulunya. Paul dan Daurio sepertinya telah menyadari bahwa naskah cerita mereka yang terdahulu menyimpan daya tarik yang begitu minimalis terhadap sang karakter utama, Gru yang merupakan sosok penjahat yang kemudian mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik setelah perkenalannya dengan tiga sosok gadis kecil.

Namun, daripada berusaha untuk memberikan Gru alur cerita yang lebih kuat lagi, Paul dan Daurio justru berpaling pada kumpulan minions untuk mengisi setiap sudut jalan penceritaan Despicable Me 2. Hasilnya, ibarat sekumpulan cheerleaders cantik yang terus menari di sepanjang sebuah pertandingan bola basket yang begitu membosankan, kumpulan minions tersebut dimanfaatkan Paul dan Daurio secara maksimal untuk mengalihkan perhatian penonton dari alur cerita utama Despicable Me 2 yang sejujurnya patut dipertanyakan keberadaannya.

Jalan cerita Despicable Me 2 sendiri dimulai ketika Gru (Steve Carrell) diculik oleh salah seorang agen The Anti-Villain League, Lucy Wilde (Kristen Wiig). Penculikan tersebut sama sekali tidak bertujuan buruk bagi Gru. Lucy justru membawa Gru ke markas besar The Anti-Villain League untuk menemui pemimpin mereka, Silas Ramsbottom (Steve Coogan), yang kemudian meminta bantuan Gru untuk menemukan seorang penjahat yang telah mencuri sebuah laboratorium penelitian yang berisikan sebuah formula kimia yang jika disalahgunakan akan mampu mengubah makhluk hidup menjadi sosok yang mematikan.

Walau pada awalnya menolak tawaran tersebut, dengan beralasan bahwa ia lebih memilih untuk berkonsentarasi menjadi ayah yang baik bagi ketiga puterinya, Margo (Miranda Cosgrove), Edith (Dana Gaier) dan Agnes (Elsie Fisher), Gru kemudian menyanggupi untuk memenuhi tugas tersebut. Walau memiliki jalan penceritaan yang menjanjikan akan kehadiran deretan adegan aksi yang terjadi selama karakter Gru melaksanakan tugasnya dalam menyelamatkan dunia, namun Despicable Me 2 justru begitu jauh dari kesan tersebut.

Dalam perjalanannya, alur cerita mengenai karakter Gru dan Lucy Wilde yang mencari jejak sang karakter antagonis kemudian terpecah menjadi begitu banyak bagian: kisah mengenai hubungan personal antara karakter Gru dan Lucy Wilde yang kemudian berkembang, hubungan Gru dan ketiga puterinya, kisah asmara pertama antara karakter Margo dengan Antonio yang kemudian membuat Gru menjadi was-was, beberapa plot cerita yang dibangun berdasarkan sudut pandang beberapa karakter pendukung lain hingga kisah mengenai pencarian jodoh yang tepat bagi Gru yang entah bagaimana bisa diselipkan dalam berbagai deretan plot cerita yang sebelumnya telah dihadirkan Despicable Me 2.

Secara sederhana, alur penceritaan Despicable Me 2 adalah begitu tidak beraturan. Yang menjadi kunci penyatu dari seluruh plot penceritaan yang saling tidak berkesinambungan tersebut adalah kehadiran kumpulan minions di setiap adegan film ini. Harus diakui, kumpulan minions yang dihadiirkan dalam seri Despicable Me memiliki daya tarik yang begitu kuat. Siapapun dipastikan tidak akan sanggup untuk menahan senyum mereka ketika kumpulan makhluk berwarna kuning tersebut telah melakukan aksi-aksi bodoh mereka di depan layar bioskop.

Namun, Despicable Me 2 memanfaatkan daya tarik para minions sehingga seringkali mengenyampingkan jalan cerita utama yang sedang berjalan. Akibatnya, tidak hanya banyak plot penceritaan Despicable Me 2 yang gagal untuk dikembangkan dengan baik, kumpulan minions yang awalnya tampak begitu menarik dan lucu tersebut akhirnya justru menjadi melelahkan keberadaannya – dan Illumination Entertainment bahkan telah menyiapkan sebuah spin-off dari seri Despicable Me berjudul The Minions yang jelas akan berisi para minions tersebut secara maksimal.

Despicable Me 2 jelas terasa berantakan akibat naskah cerita arahan Cinco Paul dan Ken Daurio yang terlalu mengandalkan asumsi bahwa penonton akan tetap merasa terhibur dengan kehadiran minions dalam jumlah yang lebih besar. Dengan karakter- karakter yang gagal untuk tergali dengan baik, wajar jika performa para jajaran pengisi suara Despicable Me 2 juga tidak pernah terasa tampil maksimal maupun istimewa.

Steve Carrell dan Kristen Wiig setidaknya masih mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik. Begitu juga dengan Miranda Cosgrove, Elsie Fisher, Benjamin Bratt serta Ken Jeong yang mampu mencuri perhatian. Peningkatan kualitas yang cukup dapat dirasakan hadir dari penampilan visual film ini, dengan penggunaan teknologi 3D di beberapa adegan terasa begitu hidup. Tata musik arahan Pharrell Williams dan Heitor Pereira juga cukup mampu membawakan atmosfer menyenangkan pada alur penceritaan Despicable Me 2.

Apakah Despicable Me 2 berkualitas buruk? Tergantung bagaimana Anda melihatnya. Sebagian dari penonton jelas akan merasa terhibur dengan berbagai kegilaan dan kebodohan yang dihadirkan para minions di sepanjang penceritaan film ini. Namun, berbagai atraksi hiburan yang tersaji tersebut jelas tidak akan dapat melepaskan fakta bahwa Despicable Me 2 tersusun atas konstruksi dasar cerita arahan Cinco Paul dan Ken Daurio yang begitu lemah dan sama sekali tidak mampu dikembangkan dengan baik oleh duo sutradara Pierre Coffin dan Chris Renaud.

Despicable Me 2 jelas lebih sering terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan bagi para penggemar minions daripada mereka yang ingin mengetahui kelanjutan kisah karakter Gru yang telah dipaparkan pada seri sebelumnya. Menghibur, namun jelas terasa terlalu dangkal untuk mampu meraih penonton dalam jangkauan yang lebih luas.



DOWNLOAD
CLICK HERE
ALTERNATIF LINK
CLICK HERE

SUBTITLE
CLICK HERE


MORE SCREENSHOT





WATCH THE TRAILER HERE


{[['']]}

Turbo +Subtitle Indonesia


Film teranyar rilisan DreamWorks Animation, Turbo, yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi David Soren, berkisah mengenai seekor siput kebun bernama Theo (Ryan Reynolds) – atau yang lebih memilih untuk dipanggil dengan sebutan Turbo, yang bermimpi untuk menjadi pembalap terbaik di dunia, seperti halnya sang idola, Guy Gagne (Bill Hader) – seorang manusia.

Masalahnya… well… Turbo adalah seekor siput yang semenjak lama memiliki takdir sebagai salah satu hewan dengan pergerakan tubuh paling lambat di dunia. Obsesinya tersebut kerap membuat Turbo menjadi bahan cemoohan bagi komunitas siput yang berada di sekitarnya, termasuk dari sang kakak, Chet (Paul Giamatti).

Hal itulah yang kemudian mendorong Turbo untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya dan memilih untuk mencari jalan hidupnya sendiri. Dalam perjalanannya, Turbo secara tidak sengaja kemudian terlempar ke bagian supercharger sebuah mobil balap dan membuat kulitnya bercampur dengan senyawa dinitrogen oksida yang berada di mesin tersebut.

Seperti halnya Peter Parker yang terkena gigitan laba-laba yang susunan genetisnya telah direkayasa, keesokan harinya, Turbo menemukan bahwa dirinya mampu bergerak jauh, jauh lebih cepat dari biasanya. Jelas, kejadian luar biasa tersebut kemudian menginspirasi Turbo untuk mengejar mimpinya. Dan dengan bantuan Tito (Michael Peña), seorang penjual taco yang juga mengelola adu balapan para siput, Turbo secara perlahan mulai mewujudkan impiannya untuk menjadi pembalap dan turut serta dalam salah satu ajang adu balap paling terkenal di dunia, Indianapolis 500.

Daripada membandingkan Turbo dengan franchise Fast and Furious (2001 – 2013) seperti yang dilabelkan pada poster film ini, perbandingan paling tepat mungkin dapat dilakukan dengan film karya Pixar Animation Studios, Ratatouille (2007). Secara sederhana, keduanya sama-sama menceritakan mengenai sosok hewan yang memiliki cara pandang, kehidupan dan impian layaknya seorang manusia: karakter Turbo adalah Remy – karakter tikus yang berhasrat begitu besar pada makanan, karakter Tito adalah Alfredo Linguini – sahabat manusia bagi karakter Remy, karakter Guy Gagne adalah Auguste Gusteau yang begitu diidolakan dan menjadi panutan Remy, dan, tentu saja, dunia balapan adalah dunia masak-memasak di garis penceritaan Ratatouille.

Usaha karakter Turbo untuk membuktikan kehebatan dirinya dalam arena balap mungkin juga akan memberikan ingatan sekilas pada Cars (2006). Not so original eh? Sayangnya, terlepas dari berbagai kemiripan yang dimiliki oleh karakter maupun garis penceritaan, kualitas presentasi naskah cerita Turbo yang ditulis oleh David Soren bersama dengan Robert Siegel dan Darren Lemke sama sekali tidak pernah mampu mendekati kualitas film animasi produksi Pixar Animation Studios yang berhasil memenangkan kategori Best Animated Feature di ajang The 80th Annual Academy Awards tersebut.

Tidak seperti karakter Remy yang memiliki daya tarik luar biasa untuk mampu mengubah sekaligus meyakinkan penonton bahwa seekor tikus dapat memiliki kemampuan memasak, karakter Turbo hadir tanpa kekuatan tersebut. Karakter Turbo hadir hampir tanpa pengembangan yang berarti: sosok yang lemah dengan mimpi yang besar, memperoleh sebuah kehebatan yang mampu membuatnya membuktikan diri dan akhirnya benar-benar mampu mencapai semua impiannya. Klise dan tanpa adanya kemampuan untuk memberikan karakter tersebut sebuah poin penceritaan yang lebih kuat.

Tidak hanya karakter Turbo yang hadir terlalu datar. Karakter-karakter pendukung lain juga disajikan dengan pendalaman yang setara. Keantagonisan karakter Guy Gagne terasa terlalu dipaksakan untuk hadir – ketika Turbo kehabisan tantangan untuk diberikan pada karakter utamanya, maka satu karakter kemudian diubah menjadi sosok antagonis. Karakter-karakter pendukung seperti Chet dan Tito juga tak pernah dihadirkan lebih dari sekedar karakter tambahan belaka – padahal hubungan persaudaraan antara karakter Turbo dan Chet menyimpan begitu banyak potensi untuk menghasilkan elemen emosional penceritaan yang kuat.

Jalan cerita Turbo sendiri sama sekali tidak pernah menyentuh tingkatan sebagai sebuah penceritaan yang buruk. Namun, dengan ide yang sebenarnya cukup unik, Turbo sayangnya dikembangkan jauh dari kesan menarik. Jika DreamWorks Animation berusaha untuk mendekati kelas Pixar Animation Studios, maka kualitas tersebut lagi-lagi dapat diperoleh dari kemampuan mereka untuk menghasilkan tatanan visual yang sangat menarik.

Pada beberapa bagian cerita, Turbo tampil dengan warna-warni yang begitu benderang namun tetap sangat nyaman untuk disaksikan. Jajaran pengisi suara mulai dari Ryan Reynolds, Paul Giamatti, Michael Peña hingga nama-nama seperti Ken Jeong dan Snoop Dogg (!) juga cukup baik dalam usaha mereka untuk menghidupkan setiap karakter yang mereka isisuarakan – meskipun masih jauh dari kesan memorable ataupun istimewa.

Cukup mengherankan untuk melihat sebuah karya DreamWorks Animation yang sekilas terkesan tidak berusaha untuk mendobrak tingkatan kualitas yang sebelumnya telah diterapkan oleh Pixar Animation Studios – DreamWorks Animation jelas merupakan pesaing terkuat Pixar Animation Studios hingga saat ini.

Turbo terkesan begitu… bukan buruk… namun (sangat) jauh dari kesan istimewa. Jalinan cerita maupun karakternya terbangun terlalu sederhana dan dikembangkan dengan minimalis sehingga gagal untuk tampil emosional maupun menghibur. Tentu saja, kualitas visualnya yang menarik serta karakter-karakter pendukung yang lucu akan cukup mampu untuk menarik minat para penonton muda yang menjadi sasaran utama film ini. Namun selebihnya… Turbo mungkin akan selamanya diingat sebagai salah satu karya terlemah DreamWorks Animation.


DOWNLOAD





Jika sobat kesusahan dalam mendownload silahkan simak
(
Cara mendownload Files di Tusfiles)


MORE SCREENSHOT



{[['']]}

Dragon Ball Z : Battle of Gods +Subtitle Indonesia

dragon-ball-z-battle-of-g.jpg


REVIEW:

Seperti diketahui oleh banyak penggemar komik dan anime, Dragon Ball merupakan salah satu komik legendaris Jepang yang sangat digandrungi. Akibatnya, banyak versi cerita di luar komik yang diusung oleh orang-orang selain Akira Toriyama, sang pengarang. Beberapa film anime yang hadir sempat menyesuaikan cerita komik di dalamnya. Hingga belakangan, terdapat serial anime berjudul Dragon Ball GT yang didaulat sebagai sequel Dragon Ball versi anime.

Sayangnya, meski dianggap sebagai sequel, isi cerita didalam serial tersebut ternyata tidak sesuai dengan keinginan sang pengarang. Dan demi meluruskan kisah yang sebenarnya, Akira pun akhirnya turun tangan membuat anime terbarunya dalam sebuah format film berjudul Dragon Ball Z: Battle of Gods.

Lewat film ini, Akira Toriyama mendapat peran yang besar untuk menyusun naskah cerita, desain hingga penulisan layar. Seperti dilansir Anime News Network pada 28 Februari 2013, film ini mengambil tema The Lost Decade sebagai cerita utamanya.

Ya, "Dragon Ball Z"  menampilkan kisah 10 tahun setelah Goku berhasil mengalahkan Buu. Goku juga harus kembali menghadapi "Pertandingan Beladiri Sejagat" yang akan diselenggarakan untuk ke-28 kalinya.



Download

untitled.png

untitledsdhusj.png

Untuk Tutorial cara menonton silahkan simak


More Screenshot

dbzgods10.jpg

devbrtwavnhm.jpg

1371806456-image-goku-god.jpg

{[['']]}

The Smurfs +Subtitle Indonesia

the-smurfs-movie-poster-7.jpg

The Smurfs – sebuah film animasi yang didasarkan dari seri komik Belgia berjudul sama yang kemudian sempat sangat populer setelah diadaptasi ke dalam serial televisi pada tahun 1980an – adalah sebuah contoh terbaru dari bagaimana Gosnell menyajikan sebuah film yang murni ditujukan bagi sebuah pangsa pasar yang begitu spesifik.

The Smurfs berkisah mengenai sekelompok makhluk kecil berwarna biru yang menamakan diri mereka sebagai… smurfs, dengan masing-masing pribadi diberikan nama berdasarkan karakteristik sikap mereka sehari-hari.

Karena dari itu, penonton akan dikenalkan secara spesifik pada enam karakter smurfs: Papa Smurf (Jonathan Winters) yang bertugas sebagai ayah dan kepala keluarga dari seluruh kelompok smurfs di desa tersebut, Smurfette (Katy Perry) yang merupakan satu-satunya smurfs berjenis kelamin wanita, Brainy Smurf (Fred Armisen) yang menjadi pemikir di kelompoknya, Gutsy Smurf (Alan Cumming) yang sering bertindak nekat dan tanpa pemikiran panjang, Grouchy Smurf (George Lopez) yang sering mengeluh akan keadaan sekitarnya serta Clumsy Smurf (Anton Yelchin) yang memenuhi deskripsi namanya sebagai karakter yang sering berbuat ceroboh.

Semenjak lama, kehidupan para smurfs telah mendapatkan ancaman dari keberadaan seorang penyihir bernama Gargamel (Hank Azaria) yang berniat untuk menculik para smurf dan mengambil kemampuan mereka guna menjadikannya sebagai seorang penyihir terkuat yang pernah ada.

Usaha Gargamel – yang selalu ditemani oleh kucingnya yang sering mencuri perhatian, Azrael (Frank Walker) – hampir mencapai keberhasilan setelah secara tidak sengaja Clumsy Smurf mengarahkan Gargamel ke desa mereka yang sebenarnya telah dilindungi oleh sebuah lapisan kasat mata.

Gargamel hampir saja berhasil menangkap mereka jika saja mereka tidak memilih untuk memasuki sebuah pusaran air gaib… dan kemudian keluar di kota New York. Di kota New York, keenam smurf tersebut tinggal di rumah pasangan Patrick (Neil Patrick Harris) dan Grace (Jayma Mays) yang saat ini sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Kedatangan keenam smurf tersebut jelas memberikan sebuah pengaruh baru bagi kediaman Patrick dan Grace, dengan Patrick merasa bahwa kedatangan keenam smurf tersebut membuat kinerjanya di perusahaan kosmetik milik Odile Anjelou (Sofia Vergara) menjadi sangat terganggu.

Papa Smurf sendiri masih berusaha untuk mencari bagaimana caranya agar mereka dapat kembali ke desa mereka yang tenteram. Sementara itu, Gargamel dan Azrael masih terus menyusun rencana agar mereka dapat menangkap dan memanfaatkan kekuatan para smurf.

Seperti yang telah dapat diduga, para smurf, para karakter manusia dan sang penyihir jahat dan kucingnya kemudian saling kejar-kejaran satu sama lain demi mendapatkan keinginannya dan berjalannya plot cerita The Smurfs.

Guyonan-guyonan yang dihadirkan telah digunakan di banyak film yang bertema sama sebelumnya – dan kebanyakan hanya akan mampu berhasil membuat tertawa para penonton muda. Pun begitu dengan jalan ceritanya: The Smurfs mencoba untuk menyelipkan beberapa pesan moral yang terbentuk antara simbiosis yang terjalin antara karakter Patrick dan Grace dengan para smurf.

Harus diakui bukanlah sebuah jalan cerita terburuk yang penonton akan dapatkan, namun tetap saja hadir terlalu datar akibat kurangnya inovasi yang terjadi di sepanjang penceritaan tersebut. Walau seringkali menghadirkan banyak guyonan yang ditujukaan untuk para penonton muda, Gosnell juga sepertinya masih berusaha untuk merengkuh para penonton dewasa yang menemani para penonton muda ketika menyaksikan The Smurfs.

DOWNLOAD







untitledsdhusj.png

Untuk Tutorial cara menonton silahkan Click Disini


More Screenshot

the-smurfs-all2.jpg

Smurfs-Trailer-01-2011-03-11.jpg
{[['']]}

Justice League: The Flashpoint Paradox +Subtitle Indonesia

Kalau Disney kembali mengadaptasi superhero hebat Marvel dalam serial animasi Marvel’s Avengers Assemble. Warner Bros. Home Entertainment juga tak mau kalah dengan merilis film animasi terbaru superhero DC berjudul Justice League: The Flashpoint Paradox dalam versi Blu-ray Combo Pack, DVD dan Digital Download pada 30 Juli mendatang.

Dalam film ini, keadaan dunia terbalik dimana salah satu superhero terbesar bumi, Flash, bangun tanpa kekuatan supernya. Perjalanan waktu ke masa lalu pun dilakukan untuk membenarkan apa yang salah dari Flash dan keluarganya. Namun, tindakan tersebut justru menimbulkan permasalahan baru yang mengubah realita masa depan dan mengancam keberadaan Justice League, bahkan Superman pun hilang entah kemana. Di tengah dunia baru yang rusak oleh perang sengit antara Wonder Woman dan Aquaman, Flash harus bekerjasama dengan Batman dan Cyborg untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

Disutradarai oleh Jay Oliva, film Justice League: The Flashpoint Paradox ini diisi suara oleh Justin Chambers sebagai Barry Allen/Flash, Kevin McKidd sebagai Thomas Wayne/ Flashpoint Batman, Michael B. Jordan sebagai Cyborg, C. Thomas Howell sebagai Thawne/Professor Zoom, Nathan Fillion sebagai Hal Jordan/ Green Lantern, Ron Perlman sebagai Slade Wilson/Deathstroke, Dana Delany sebagai Lois Lane, Cary Elwes sebagai Aquaman, Danny Huston sebagai General Lane, Sam Daly sebagai Superman, dan Kevin Conroy sebagai Bruce Wayne/Batman .


DOWNLOAD
CLICK HERE

SUBTITLE
CLICK HERE


More Screenshot:

{[['']]}

Rise of the Guardians +Subtitle Indonesia

Diangkat dari seri buku cerita berjudul The Guardians of Childhood karya William Joyce – yang film animasi pendek-nya, The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore, memenangkan Academy Awards pada tahun lalu, Rise of the Guardians mencoba untuk menggabungkan beberapa tokoh mitos ikonik ke dalam satu rangkaian cerita.

Dikisahkan, North (yang merupakan penggambaran dari Santa Claus, Alec Baldwin), E.Aster Bunnymund (yang merupakan penggambaran dari kelinci Paskah, Hugh Jackman), Tooth (yang merupakan penggambaran dari Peri Gigi, Isla Fisher) serta Sandy (penggambaran dari The Sandman yang bertugas untuk memberikan mimpi baik bagi para anak-anak) telah lama dipilih oleh Man in the Moon menjadi Guardians yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar perasaan bahagia selalu hadir dalam hati setiap anak-anak di dunia.

Sebaliknya, kebahagiaan dari anak-anak dan kepercayaan mereka terhadap karakter-karakter mitos tersebut adalah sebuah kekuatan tersendiri yang akan tetap mampu menjaga keberadaan dari para Guardians.

Setelah sekian lama tugas mereka tidak pernah menemui masalah, suatu malam North dikejutkan dengan kehadiran bayangan Pitch Black (Jude Law) yang dikenal sebagai sosok yang selalu menebar rasa takut dalam setiap kehadirannya.

Merasa khawatir, North lalu mengumpulkan para Guardians lainnya dan kemudian meminta petunjuk pada Man in the Moon mengenai langkah apa yang seharusnya mereka ambil untuk mencegah Pitch Black dari niatnya untuk menebar teror ketakutan pada anak-anak.

Secara mengejutkan, Man in the Moon kemudian menunjuk agar para Guardians merangkul Jack Frost (Chris Pine) – yang selama ini lebih dikenal sebagai karakter yang selalu menimbulkan kekacauan – untuk menjadi seorang Guardians lainnya.

Walau awalnya merasa tidak percaya, namun para Guardians akhirnya memilih untuk bekerjasama dengan Jack Frost dan mulai menyusun rencana untuk melawan kekuatan gelap Pitch Black.

Jalan cerita Rise of the Guardians sendiri harus diakui bukanlah sebuah jalan cerita yang mampu menawarkan sebuah tema penceritaan baru: sekelompok karakter protagonis harus bersatu untuk melawan satu sosok antagonis, serta dalam perjalanan tersebut, masing-masing mulai menemukan bahwa mereka sama-sama memiliki karakteristik unik yang kemudian justru dijadikan kekuatan dalam melawan sang karakter antagonis.

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh David Lindsay-Abaire (Rabbit Hole, 2010), Rise of Guardians justru mampu memberikan sebuah sajian menarik melalui cara film ini ketika menghadirkan twist dalam kisah latar belakang kehidupan para karakter-karakter mitos yang selama ini telah begitu dikenal luas oleh banyak kalangan.

Lewat jalan yang sama itu pula, Lindsay-Abaire mampu menggali setiap karakter dengan baik sehingga dapat terasa begitu familiar dan hangat bagi para penonton film ini. Yang juga mampu membuat Rise of the Guardians tampil kuat bercerita adalah tata visual film ini yang mampu menghadirkan sajian-sajian gambar yang begitu indah.

Rise of the Guardians juga merupakan salah satu film animasi yang berhasil memanfaatkan penggunaan teknologi 3D dengan begitu baik. Kehadiran teknologi 3D tersebut membuat banyak adegan dalam film ini menjadi jauh lebih hidup dan mengesankan.

Keberhasilan penggalian kisah para karakter yang dihadirkan dalam film ini juga didukung dengan kemampuan para pengisi suara untuk menjadikan karakter mereka menjadi hidup. Diantara seluruh pengisi suara, Jude Law mampu hadir dengan istimewa dalam membawakan karakter antagonisnya, Pitch Black. Begitu juga dengan Hugh Jackman yang hadir membawakan aksen Australia-nya pada karakter E.Aster Bunnymund.

Rise of the Guardians juga menampilkan karakter-karakter pendukung kecil yang seringkali mampu mencuri perhatian lewat gerak-geriknya maupun dialog one-liner yang jenaka – satu kekhasan yang sepertinya terus digunakan semenjak kesuksesan para karakter minions dalam Despicable Me (2010).

Rise of the Guardians mungkin adalah salah satu contoh dimana sebuah film mampu bercerita lebih kuat melalui tampilan visualnya daripada sajian naskah ceritanya – walau hal tersebut tidak murni berarti bahwa Rise of the Guardians memiliki sebuah susunan naskah cerita yang buruk. Plot cerita film ini jelas merupakan sebuah plot cerita petualangan standar yang telah berulang kali diproduksi Hollywood. Keberhasilan penulis naskah David Lindsay-Abaire untuk membangun karakter-karakter mitos ikonik dengan latar belakang kehidupan berbeda-lah yang kemudian membuat jalan cerita Rise of the Guardians mampu tampil sedikit istimewa.

Didukung dengan kemampuan para pengisi suara film ini untuk menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan, Rise of the Guardians berhasil hadir sebagai sebuah film animasi yang sangat menyenangkan untuk disaksikan.


DOWNLOAD

SUBTITLE


More Screenshot:

{[['']]}

Despicable Me +Subtitle Indonesia

Despicable Me adalah sebuah film animasi komedi yang bercerita tentang seorang penjahat jenius yang menggunakan tiga anak perempuan dari panti asuhan untuk mensukseskan rencana kejahatannya. Tetapi sang penjahat mendapati bahwa dirinya telah berubah karena cinta dari tiga anak perempuannya.

Dalam suatu lingkungan yang tenang, dimana rumah-rumah terlihat rapih dan menarik dengan pagar putihnya serta halaman penuh dengan mawar, terdapat satu rumah hitam yang besar, dengan halaman yang gersang.

Tetangga yang misterius, dengan markas rahasia didalam tanah dan dikelilingi oleh para minion, Gru, seorang penjahat jenius berencana untuk melakukan kejahatan terbesar sepanjang abad, mencuri bulan! Sayangnya, untuk melaksanakan rencana tersebut, Gru membutuhkan dana yang tidak sedikit, dan ia berencana untuk mendapatkan dana dari bank untuk para kriminal besar. Sang pemilik bank mengajukan syarat bahwa Gru akan mendapatkan pinjaman apabila ia berhasil mencuri alat yang dapat mengecilkan segala sesuatu.

Saat ia berhasil mencuri alat tersebut, ditengah perjalanan, saingannya Vector, berhasil merebut alat tersebut. Segala upaya telah dilakukan oleh Gru untuk merebutnya kembali, tetapi tidak berhasil.

Sampai suatu saat ia menemukan fakta bahwa Vector sangat tergila-gila pada biskuit coklat yang dijual oleh Margo, Edith dan Agnes dari panti asuhan. Gru yang memutuskan untuk mendapatkan alat tersebut dengan cara apapun, mengadopsi mereka dan berencana menggunakan mereka. Tetapi dalam perjalanannya, Gru mendapatkan bahwa ia mulai menyayangi anak-anak tersebut.

Apakah rencana Gru untuk mencuri bulan berhasil ? dan bagaimanakah hubungan Gru dengan Margo, Edith dan si mungil Agnes ?


DOWNLOAD
CLICK HERE
ALTERNATIF LINK
CLICK HERE

SUBTITLE
CLICK HERE
{[['']]}

Monster University +Subtitle Indonesia

When it comes to Pixar Animation Studios, everyone comes with an unreasonable high expectation. Tidak salah. Semenjak memulai petualangan mereka dengan Toy Story (1995) dan kemudian menghadirkan film-film semacam Finding Nemo (2003), The Incredibles (2004), Ratatouille (2007), WALL-E (2008), Up (2009) hingga Toy Story 3 (2010) yang tidak hanya menjadi favorit banyak penonton namun juga mengubah cara pandang kebanyakan orang terhadap film animasi, Pixar Animation Studios telah menjadi artis standar tersendiri atas kualitas produksi sebuah film animasi.

Tidak mengherankan jika ketika Pixar Animation Studios merilis film-film seperti Cars 2 (2011) dan bahkan Brave (2012) yang berkualitas menengah (baca: cukup menghibur namun jauh dari kesan istimewa), banyak penonton yang mulai meragukan konsistensi rumah produksi yang kini berada di bawah manajemen penuh Walt Disney Pictures tersebut dalam kembali menghadirkan film-film animasi yang berkelas.

Not wrong… but quite silly. Sebagai sedikit pengingat: Pixar Animation Studios sama sekali belum pernah menghasilkan film-film yang berkualitas benar-benar buruk. Jika Cars (2006), Cars 2 ataupun Brave dirilis oleh rumah produksi animasi lainnya, tiga film animasi tersebut kemungkinan besar akan mendapatkan kredit lebih atas kekuatan penceritaannya. Anyway… Monsters University, yang merupakan prekuel dari Monsters, Inc. (2001), juga sepertinya akan mendapatkan reaksi yang sama dengan tiga film tersebut. Harus diakui, Monsters University hadir dengan kualitas penceritaan yang biasa saja – bahkan, jika dibandingkan dengan film pendahulunya, Monsters University terasa kehilangan begitu banyak sentuhan humanisnya.

Tapi apakah hal tersebut membuat Monsters University menjadi sebuah presentasi yang buruk? Hardly. Mungkin terasa terlalu familiar, namun film arahan Dan Scanlon ini jelas masih memiliki banyak taji yang akan mampu membuat banyak penonton merasa jatuh cinta pada karakter Mike dan Sully – bahkan jika mereka belum pernah menyaksikan Monsters, Inc.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Scanlon bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird, Monsters University membawa kembali penontonnya ke masa dimana Michael “Mike” Wazowski (Billy Crystal) baru saja memasuki masa perkuliahannya di Monsters University dalam memenuhi impiannya di masa kecil untuk menjadi seorang monster yang mampu memberikan rasa takut kepada anak- anak kecil.

Permasalahan utamanya adalah… Mike sama sekali tidak memiliki kondisi fisik yang menakutkan. Hasilnya, meskipun Mike dengan mudah menyerap berbagai ilmu mengenai tata cara menakuti seorang anak dengan baik, Mike tetap dipandang sebelah mata oleh dekannya, Dean Hardscrabble (Helen Mirren), serta kebanyakan rekan- rekan mahasiswa lainnya. Berbeda dengan Mike, James P. “Sully” Sullivan (John Goodman) terlahir dari klan monster yang telah terkenal kelegendarisannya dalam hal menghasilkan rasa takut. Bahkan tanpa mempelajari berbagai trik menakuti yang diberikan di Monsters University, Sully dapat dengan mudah menakuti setiap anak kecil yang ia jumpai dengan raungannya dengan tegas dan kuat.

Dengan perbedaan tersebut diantara mereka, jelas dapat dimengerti mengapa Mike dan Sully awalnya begitu saling tidak menyukai satu sama lain. Namun, ketika Dean Hardscrabble kemudian memberikan mereka sebuah tantangan yang dapat mengancam posisi mereka di Monsters University, Mike dan Sully terpaksa harus menyingkirkan perbedaan mereka dan mulai saling bekerjasama untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

Well… memang benar… Sama sekali tidak ada yang istimewa dalam jalan penceritaan Monsters University – yang pada dasarnya merupakan kisah perseteruan antara kelompok jocks dan nerds di bangku kuliah yang kemudian mendapatkan penyesuaian cerita untuk dihadirkan bagi para penonton muda. Konsep-konsep mengenai dunia monster yang pernah disajikan dalam Monsters, Inc. jelas tidak lagi menjadi kejutan cerdas ketika kembali dihadirkan dalam Monsters University. Dan jika Anda adalah salah satu penonton yang mengharapkan untuk mendapatkan sentuhan emosional yang memuncak – sehingga dapat membuat Anda menangis – ketika memilih untuk menyaksikan Monsters University, maka Anda kemungkinan besar akan kecewa dengan presentasi Dan Scanlon untuk film ini.

Benar bahwa Monsters University adalah sebuah film tentang rasa persahabatan dan berbagai hal yang terjadi di dalamnya, namun Scanlon sepertinya lebih memilih untuk berfokus pada sisi bersenang-senang dari rasa persahabatan tersebut daripada menghadirkan sebuah usaha untuk membuat penontonnya menangis akibat rasa haru.

Tapi, sekali lagi, Monsters University, bukanlah sebuah presentasi yang buruk dan jelas akan sulit untuk dibenci oleh penontonnya. Seperti halnya film-film hasil produksi Pixar Animation Studios, Monsters University masih dilengkapi dengan tampilan visual yang begitu memikat. Semenjak lama, Pixar Animation Studios memang telah berhasil mengaburkan (bahkan menghapus) batas antara sebuah film animasi dengan sebuah film live-action – realitas dan ilusi. Hal yang sama juga terjadi pada Monsters University. Meskipun penonton disajikan dengan karakter-karakter yang begitu berwarna dan jelas tidak akan pernah hadir dalam kehidupan nyata, adalah sangat mudah untuk terlupa bahwa presentasi yang sedang tersaji adalah sebuah film animasi akibat kemampuan Pixar Animation Studios dalam menghadirkan detil gambar yang memukau serta tata kamera yang begitu hidup dalam mengikuti setiap pergerakan karakternya.

Kemampuan Scanlon bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird dalam menghadirkan dialog-dialog yang cukup cerdas serta dipenuhi deretan humor yang terasa segar dan menghibur juga layak diberikan kredit lebih. Dan yang terlebih utama, para pengisi suara Monsters University berhasil memberikan kehidupan yang begitu kuat bagi setiap karakter yang mereka sajikan. Billy Crystal dan John Goodman kembali memerankan karakter Mike dan Sully dan hadir dengan chemistry yang begitu terasa erat. Helen Mirren mampu tampil sinis sebagai Dean Hardscrabble. Begitu juga dengan Steve Buscemi yang mengisisuarakan karakter Randall “Randy” Boggs yang dalam Monsters University diberikan sedikit kisah latar belakang mengapa ia menjadi sosok yang antagonis nantinya dalam Monsters, Inc.

Dan masih layaknya film-film persembahan Pixar Animation Studios lainnya, Monsters University juga dibuka dengan kehadiran sebuah film pendek yang berjudul The Blue Umbrella arahan Saschka Unseld. Berbeda dengan film-film pendek produksi Pixar Animation Studios sebelumnya, The Blue Umbrella menghadirkan teknik animasi yang diterapkan pada rekaman fotografi nyata.

Sayangnya, meskipun merupakan sebuah keberhasilan teknis yang sangat menawan – serta ditemani dengan tata musik arahan Jon Brion yang begitu menghipnotis, The Blue Umbrella kurang mampu hadir dalam kualitas penceritaan yang istimewa. It’s nice but otherwise quite forgettable. Pada akhirnya, adalah sangat mudah untuk memberikan penilaian sesaat bagi Monsters University: Anda akan menganggapnya remeh karena tidak sesuai dengan standar tinggi film-film produksi Pixar Animation Studios sebelumnya yang telah Anda tetapkan sendiri atau Anda hanya cukup menikmatinya dan mengalir dengan segala kekonyolan yang dihadirkan Dan Scanlon dalam presentasi Monsters University.

Tidak mudah untuk menyingkirkan ekspekstasi tinggi pada sebuah film karya Pixar Animation Studios, tapi ketika Anda berhasil melakukannya, Monsters University akan cukup mampu menghadirkan waktu-waktu yang sangat menyenangkan untuk setiap penontonnya.


DOWNLOAD
CLICK HERE
ALTERNATIF LINK
CLICK HERE

SUBTITLE
CLICK HERE


More Screenshot:

{[['']]}

The Croods +Subtitle Indonesia

Disutradarai oleh Kirk DeMicco (Space Chimps, 2008) dan Chris Sanders (How to Train Your Dragon, 2010) dengan naskah cerita yang juga mereka tulis sendiri, The Croods akan membawa para penontonnya ke masa prasejarah dan berpetualang bersama keluarga Croods yang berisi sang ayah, Grug (Nicolas Cage), sang ibu, Ugga (Catherine Keener), puteri tertua mereka, Eep (Emma Stone), putera mereka, Thunk (Clark Duke), bayi perempuan, Sandy (Rhandy Thom), serta sang nenek, Gran (Cloris Leachman).

Dikisahkan, keluarga Croods adalah salah satu dari sedikit keluarga di masa tersebut yang mampu bertahan terhadap kondisi lingkungan yang terus-menerus berevolusi. Kesuksesan itu sendiri dapat terwujud karena aturan keras Grug yang ia terapkan pada setiap anggota keluarganya: harus selalu memiliki rasa takut, jangan pernah keluar dari gua tampat mereka hidup khususnya di malam hari serta jangan pernah memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru yang mereka temui.

Tentu saja, walaupun dimaksudkan untuk sebuah tujuan yang baik, berbagai peraturan yang diterapkan Grug tersebut telah membuat keluarganya hidup dalam ruang gerak yang terbatas. Hal ini lama kelamaan membuat gerah Eep – yang berbeda dari keluarga dan kebanyakan manusia prasejarah lainnya, memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa terhadap banyak hal yang ia temui di lingkungannya.

Suatu hari, Eep bertemu dengan Guy (Ryan Reynolds), seorang pemuda yang kemudian mengungkapkan bahwa dunia sedang mengalami banyak goncangan dan menuju masa kiamat. Panik, Eep lantas memberitahukan hal tersebut pada ayahnya – yang jelas-jelas kemudian berpendapat bahwa hal tersebut hanyalah bualan saja.

Namun, ketika serangkaian getaran hebat menghancurkan lingkungan serta gua tempat mereka tinggai, Grugg, Eep dan seluruh keluarga mereka terpaksa harus turut serta dalam petualangan hidup untuk dapat mempertahankan posisi mereka di muka Bumi.

The Croods pada dasarnya adalah sebuah kisah perjalanan satu keluarga dimana dalam perjalanan tersebut mereka akan menghadapi berbagai tantangan yang akan menguji daya tahan mereka sebagai manusia terhadap lingkungannya yang sedang berubah dan, yang paling penting, kekuatan mereka sebagai sebuah kesatuan keluarga.

Walt Disney atau Pixar mungkin akan mampu menemukan celah sentimental pada premis tersebut untuk dihadirkan pada penontonnya namun DeMicco dan Sanders seperti terkesan menyampingkan berbagai hal yang berhubungan dengan sisi emosional dan hanya murni tampil bercerita di sepanjang presentasi film ini. Bukan bermaksud untuk mengatakan The Croods adalah sebuah presentasi yang gagal. Setidaknya DeMicco dan Sanders memiliki jajaran pengisi suara yang sangat solid untuk mampu menghidupkan setiap karakter yang berada di dalam jalan cerita film ini.

Emma Stone mampu mengalirkan kepribadiannya yang begitu mudah untuk disukai melalui karakter Eep yang selalu memiliki rasa ingin tahu. Ryan Reynolds juga berhasil menghidupkan karakter Guy menjadi sosok yang begitu mudah untuk disukai – walau DeMicco dan Sanders sama sekali tidak pernah menjelaskan latar belakang kehadiran karakternya. Namun tetap saja, adalah Nicolas Cage yang menjadi perhatian utama dari film ini. Kharisma Cage yang begitu kuat mampu membuat karakter Grug tampil berpengaruh di setiap adegan.

DeMicco dan Sanders juga mampu mewujudkan berbagai fantasi mereka tentang kehidupan di masa prasejarah lewat tatanan visual yang begitu mengagumkan. DeMicco dan Sanders harus diakui mampu menghadirkan konsep yang begitu unik mengenai kehidupan di masa prasejarah. Fantasi mereka tentang berbagai flora dan fauna yang hidup di masa tersebut benar-benar mampu mencuri perhatian dan berkat tata visual yang begitu spektakuler – lengkap dengan sentuhan 3D yang bekerja dengan baik dan akan mengingatkan banyak penontonnya mengenai keindahan Avatar (2009), The Croods mampu tampil sebagai film animasi yang memiliki kualitas tata produksi yang mengesankan.

Hadir dengan tata produksi yang begitu mengesankan secara keseluruhan serta dukungan jajaran pengisi suara yang mampu menghidupkan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini dan membuat mereka menjadi lebih menarik, The Croods seringkali terlihat berjuang untuk menjadi lebih dari sekedar road movie standar yang menghadirkan tantangan bagi karakter-karakternya sebelum akhirnya mereka tiba di tujuan akhirnya.



DOWNLOAD
ALTERNATIF LINK

SUBTITLE



More Screenshot:


{[['']]}

POPULAR POST

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Droid Movies - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger